
nabimuhammad.info _ Anas bin Malik meriwayatkan:
Terakhir kali saya melihat Rasulullah adalah ketika beliau membuka tabir penghalang pada hari senin. Saya melihat wajah beliau begitu jernih seperti lembaran kertas. Ketika itu para sahabat bermakmum kepada Abu Bakar. Beliau memerintahkan para sahabat untuk tidak beranjak dari tempat mereka, sementra Abu Bakar bertindak sebagai imam shalat. Kemudian beliau meletakkan tabir penghalang (untuk shalat). Rasulullah wafat pada akhir hari itu.
(HR Tirmidzi, Muslim, Nasa’I, Ibnu Majah, Ahmad dan Ibn Sa’d)
Qasim bin Muhammad meriwayatkan bahwa Aisyah berkata:
Saya melihat Rasulullah pada hari kewafatan beliau. Di sisi beliau, terdapat bejana sebuah air. Beliau memasukkan tangan ke bejana itu, kemudian mengusap wajah dengan air, lalu berdoa: “Ya Allah, bantulah aku mengatasi kemungkaran kemungkaran kematian – atau melewati sakratul maut-“
(HR Tirmidzi, Ibn Majah, Ahmad dan Ibn Sa’d)
Aisyah meriwayatkan:
Saya menyadandarkan Rasulullah ke dada saya – atau pangkuan saya. Beliau meminta bejana untuk dijadikan tempat beliau membuang air kecil. Setelah itu, beliau wafat.
(HR Bukhari, Muslim, Ibn Majah, Nasa’I dan Ibnu Sa’d)
Aisyah r.a. meriwayatkan:
Saya tidak pernah lagi merasa dengki kepada seseorang yang meninggal dengan mudah setelah saya melihat betapa berat datangnya ajal yang dialami Rasulullah.
(HR Tirmidzi, Bukhari, Nasa’I dan Ahmad)
Ketika Rasulullah wafat, para sahabat berselisih pendapat tentang tempat beliau akan dimakamkan. Abu Bakar berkata, ‘Aku pernah mendengar dari Rasulullah sesuatu yang tidak pernah aku lupakan. Beliau pernah menyatakan bahwa Allah tidak akan mencabut nyawa seorang Nabi kecuali ditempat yang diinginkannya untuk menjadi tempat peristirahatan terakhir. Maka kebumikanlah beliau di tempat ranjang beliau!’.
(HR Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Adi dan Ibnu Sa’d)
Abu Bakar masuk ke tempat Rasulullah setelah beliau wafat, kemudian ia mengecup kening beliau, lalu meletakkan tangannya di atas lengan beliau, seraya Abu Bakar berseru, ‘Duhai Nabiku! Duhai sahabatku! Duhai kekasihku!’.
(HR Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Sa’d)
Rasulullah wafat pada hari senin.
(HR TIrmidzi dan Baihaqi)
Ibnu Abbas dan Aisyah meriwayatkan:
Abu Bakar mencium Rasulullah setelah beliau wafat.
(HR Tirmidzi, Bukhari, Ibnu Majah dan Ahmad)
Diriwayatkan dari Anas bin Malik:
Ketika Rasulullah memasuki kota Madinah, segala sesuatu di kota ini tampak bersinar. Tetapi ketika Rasulullah wafat, segala sesuatu tampak gelap. Dan tidaklah kami membersihkan debu dari tangan kami, sementara kami tengah mengebumikan beliau hingga kami memungkiri perasaan hati kami.
(HR Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Hibban dan Hakim)
Muhammad bin Ali meriwayatkan:
Rasulullah wafat pada hari senin. Jasad beliau masih di semayamkan pada hari senin dan malam selasa. Beliau dikebumikan pada selasa malam.
Menurut Sufyan bin Uyainah (salah seorang periwayat hadits ini) sebagian orang berkata, ‘Suara cangkul (orang orang yang menggali liang lahat beliau) terdengar pada akhir malam’
(HR Tirmidzi, Ibnu Sa’d dan Ahmad)
Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf meriwayatkan:
Rasulullah wafat pada hari senin dan dikebumikan pada hari selasa.
(HR Tirmidzi)
Salim bin Ubaid meriwayatkan:
Rasulullah jatuh pingsan ketika sakit. Tidak lama kemudian beliau sadar, lalu beliau bertanya, ‘Apakah waktu shalat telah tiba?’ Para sahabat menjawab, ‘Ya’. Beliau berkata, ‘Perintahkan Bilal untuk mengumandangkan azan dan perintahkan Abu Bakar untuk bertindak sebagai imam shalat!’ Beliau jatuh pingsan lagi. Sesaat kemudian, beliau sadar dan kembali bersabda, ‘Perintahkan Bilal untuk mengumandangkan azan dan perintahkan Abu Bakar untuk bertindak sebagai imam!’ Mendengar perintah tersebut Aisyah berkata, ‘Ayahku sangat sensitive. Jika ia menjadi imam, ia akan menangis. Ia bukan orang yang tepat untuk menjadi imam shalat. Alangkah baiknya jika engkau menugaskan orang lain’.
Tetapi Rasulullah kembali pingsan, sesaat kemudian beliau sadar seraya bersabda, ‘Perintahkan Bilal untuk mengumandangkan azan dan perintahkanlah Abu Bakar untuk menjadi imam! Sungguh, kalian seperti sahabat sahabat Yusuf (dalam hal menunjukkan apa yang bertentangan dengan isi hati)’. Bilal pun mengumandangkan azan dan Abu Bakar bertindak sebagai imam shalat. Ketika itu, Rasulullah merasakan bahwa rasa sakit yang beliau derita mulai berkurang. Maka beliau berkata, ‘Carilah orang yang bisa menuntunku!’ Barirah datang bersama seorang laki laki. Dengan dituntun kedua orang itu, Rasulullah keluar rumah. Ketika Abu Bakar melihat beliau keluar, ia hendak mundur. Tapi Rasulullah memberi isyarat agar Abu Bakar tetap di tempatnya. Abu Bakar pun mengimami shalat hingga selesai.
Setelah itu Rasulullah wafat… Umar bin Khaththab berkata, ‘Demi Allah, siapapun yang mengatakan bahwa Rasulullah telah wafat pasti akan kuhajar ia dengan pedangku ini’
Para sahabat adalah kaum ummiyyun –tidak pernah ada nabi di tengah tengah mereka sebelum Rasulullah-. Karena itu mereka hanya diam dan tidak melakukan apapun. Mereka berkata, ‘Wahai Salim! Pergilah ke sahabat Rasulullah (Abu Bakar) dan panggilah ia!’
Maka, akupun mendatangi Abu Bakar yang sedang berada di dalam masjid sambil menangis terisak.
Ketika Abu Bakar melihatku, ia bertanya, ‘Apakah Rasulullah telah wafat?’. Maka kusampaikan kepadanya bahwa Umar berkata, Siapapun yang berkata bahwa Rasulullah telah wafat pasti akan kupukul ia dengan pedangku ini.
Mendengar perkataanku, Abu Bakar berkata, “Ayo kita pergi ke sana!” Aku pun segera kembali bersamanya. Ketika kami tiba, para sahabat tengah berkerumum di kamar Rasulullah, lalu Abu Bakar berkata, ‘Wahai para sahabat! Biarkan saya lewat’ Mereka pun memberinya jalan. Abu Bakar masuk dan memeluk Rasulullah, menunduk dan menyentuh lengan beliau, kemudian berkata, ‘Sungguh, engkau wafat dan mereka pun (akan) mati’
Para sahabat bertanya, ‘Wahai sahabat Rasulullah, benarkah Rasulullah telah wafat?’ Abu Bakar menjawab, ‘Ya’. Maka para sahabat pun tahu bahwa ia berkata benar.
Mereka kembali bertanya, ‘Wahai sahabat Rasulullah, apakah Rasulullah akan di shalatkan?’ Ia menjawab, ‘Ya’. Mereka bertanya, ‘Bagaimana caranya?’ Ia menjawab, ‘sebagian orang masuk, bertakbir, berdoa, melaksanankn shalat (jenazah) kemudian keluar. Setelah itu sebagian lagi masuk, bertakbir, melaksanakan shalat (jenazah), berdoa, lalu keluar. Demikian seterusnya hingga semua orang dapat masuk dan melaksanakan shalat jenazah’. Para sahabat bertanya lagi, ‘Wahai sahabat Rasulullah, apakah Rasulullah akan dikebumikan?’ Ia menjawab, ‘Ya’. Mereka bertanya, ‘Dimana?’ Ia menjawab, ‘Ditempat Allah swt mencabut nyawa beliau. Allah tidak akan mencabut nyawa beliau kecuali di tempat yang baik’
Mendengar itu, para sahabat pun tau bahwa Abu Bakar berkata benar, kemudian Abu Bakar memerintahkan agar jenazah Rasulullah dimandikan oleh keluarga beliau.
Para sahabat dari kalangan Muhajirin berkumpul dan merundingkan sesuatu. Mereka berkata, ‘Mari kita temui saudara saudara kita dari kalangan Anshar. Kita libatkan mereka dalam musyawarah ini’
Kaum Anshar berkata, ‘Kami akan memilih pemimpin kami sendiri dan kalian akan memilih pemimpin kalian sendiri’.
Maka Umar bin Khaththab berkata, ‘Siapakah yang memiliki 3 hal ini: “sedang dia salah seorang dari 2 orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya: ‘Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita’……”(At Taubah 10:40) diantara mereka berdua (Abu Bakar dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah)?’
Setelah itu Umar memegang tangan Abu Bakar dan membaiat Abu Bakar dengan niat yang baik dan indah.
(HR Tirmidzi, Ibnu Majah, Thabrani, Bukhari dan Ahmad)
Anas bin Malik meriwayatkan:
Ketika Rasulullah berjuang melawan sakratul maut, Fatimah berkata: ‘Betapa tersiksanya engkau, wahai ayahku!’. Rasulullah menjawab, ‘Setelah hari ini, tidak akan ada lagi rasa sakit yang diderita oleh ayahmu. Sungguh, telah datang kepada ayahmu sesuatu yang tidak akan dapat dihindari oleh siapapun. Demikian yang akan terjadi hingga hari kiamat nanti’
(HR Tirmidzi, Bukhari, Ibnu Majah dan Ahmad)
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:
‘Siapapun diantara umatku yang memiliki 2 orang anak yang meninggal sebelum dirinya, maka Allah pasti memasukkannya ke dalam surga berkat kedua anaknya itu’. Aisyah bertanya, ‘Bagaimana dengan orang yang hanya mempunyai satu orang anak?’ Beliau menjawab, ‘Ia pun masuk surga, wahai orang yang dilimpahi taufik (Aisyah)’. Aisyah pun bertanya lagi, ‘Bagaimana dengan orang yang sama sekali tidak memiliki anak?’ Rasulullah menjawab, ‘Maka aku lah “anak” yang meninggal terlebih dahulu demi umatku. Mereka tidak akan merasakan apa yang menimpaku’
(HR TIrmidzi dan Ahmad)

