Seperti juga nabi-nabi sebelumnya, Rasulullah hanyalah seorang “Penyampai Peringatan dan Kabar Gembira” yang misinya adalah menyampaikan wahyu Allah. secara terus-menerus. Ajaran yang bersumber dari Allah ini sangat penting bagi keselamatan dan keberhasilan manusia, sehingga ia harus mampu meyakinkan umatnya.
Itulah sebabnya ia harus berhasil, dengan ijin dan kehendak Allah tentunya, agar dapat “memperbaiki dunia dan menghilangkan penyelewengan di atas dunia” sehingga kebajikan diserukan dan kejahatan dicegah” dan akhirnya “yang berkuasa adalah Allah”.
Sebagai seorang rasul, ia harus mengambil tindakan cepat karena, seperti yang disaksikannya, masyarakatkan berada dalam situasi yang sangat menyedihkan.
“di siang hari banyak urusanmu” (73:7), Al-Qur’an berkata kepada Rasul, dan
“sesungguhnya Kami akan membebankan kepadamu tugas yang berat” (75:5)
oleh karena itulah Rasul harus
“berjaga-jaga di sepanjang malam kecuali sebentar saja untuk melakukan ibadah khusuk bagi Tuhanmu” (73:2).
“ Tugas berat” ini menggantikan “ beban yang memenatkan punggungmu” (94:2-3), namun, Rasul tak perlu gentar karena
“ Dia (Allah) melihat engkau meraba-raba dalam kegelapan dan menunjukkaan jalan yang benar kepadamu.”(93:7 )
Kerasnya cobaan yang dihadapi, kadangkala mempengaruhi batin Rasul sehingga ia sering merenungi apakah semua perjuangannya itu bermanfaat atau pasti akan berhasil. Di satu pihak Rasul benar-benar yakin bahwa ajaran yang disampaikannya itu bersumber dari Allah dan harus dilaksanakannya. Jika ia tidak mau melihat masyarakatnya menghadapi kehancuran. Namun di sisi lain, situasi yang dihadapinya sedemikian siulit dan keberhasilan usahanya masih sangat diragukan.
Pada dasarnya Rasul bukanlah seorang yang agresif dan suka menonjolkan diri. Sebaliknya dengan menekuni kehidupan Rasul, kita akan mengetahui bahwa ia suka merenung, tidak suka mencampuri urusan orang lain, pemalu dan suka mnenyendiri. Namun karena sangat prihatin menyaksikan situasi eksistensial manusia di sekeliling dirinya, batinnya memaksa dia untuk terjun ke dalam arena sejarah.
Kenyataan inilah yang menerangkan mengapa ayat-ayat al-Qur’an , khususnya di masa-masa awal kenabian Muhammad, bersifat ringkas, tegas, dan terdiri dari ucapan-ucapan pendek seperti ledakan-ledakan gunung berapi atau aliran sungai yang melalui sebuah ngarai. Hal ini adalah karena malaikat yang membawakan Wahyu Allah secara langsung berbicara melalui hati Nabi Muhammad.

