
Nabi Muhammad SAW
Perjuangan harus berlanjut. Walau pun tidak mendapat hasil yang diinginkannya dari jamuan makan tersebut, Rasul tidak berputus asa. Ia tahu, peristiwa kemarin hanya sebagian kecil dari ujian yang akan dihadapinya dalam menjalankan misi ini. Kini ia memikirkan cara lain yang efektif dan efisien. Karena kali ini sasarannya tidaklagi hanya kaum kerabat dekatnya. Tetapi jangkauannya harus diperluas lagi. Yakni seluruh penduduk Mekah.
Dan cara yang paling tepat dan jitu untuk melaksanakan hal itu adalah membicarakannya dari atas sebuah bukit. Seperti kebiasaan yang terjadi selama ini pada bangsa Arab. Mereka biasa berteriak diatas sebuah bukit bila ingin memberi pengumuman atau sekedar membaca syair-syair.
Maka, mulailah Rasul yang pemalu itu mendaki sebuah bukit kecil yang bernama Shafa. Berteriaklah Rasul memanggil-manggil bangsa Arab dengan suara lantang.
“Ya shabahah! Ya Shabahah!”
Inilah teriakan yang sangat dikenal oleh orang Arab dan sangat memberi pengaruh orang-orang yang mendengarnya. Teriakan yang dikumandangkan bila ada bahaya, misalnya musuh yang datang menyerang, padahal mereka sedang lengah. Maka, demi mendengar teriakan ini tak ada seorang Quraisy pun yang datang terlambat. Apalagi demi yang dilihatnya berteriak adalah seseorang yang baru saja mengaku sebagai nabi. Dan ia membawa agama baru yang aneh. Teriakkan Rasulullah, tentu saja mengusik keingin tahuan orang-orang. Setelah sekian lama informasi tentang agama baru ini Cuma datang sepotong-sepotong, orang jadi ingin tahu apa yang ingin dikatakan Rasul. Semua berbondong-bondong menyemut di bawah kaki bukit .
Melihat pancingannya berhasil, Rasul segera melanjutkan teriakkannya.
“Wahai kaum Quraisy!
Apa pendapat kalian bila saat ini kukabarkan kepada kalian bahwa dibalik bukit ini ada pasukan musuh yang hendak menyerang kalian. Apakah kalian akan mempercayaiku?”
Sesungguhnya inilah pertanyaan yang sangat tepat untuk langsung menggiring opini massa bahwa Rasul adalah pembawa berita yang benar. Karena reputasi Rasulullah begitu kuat sehingga opini itu akan segera terbentuk. Bahwa apa yang akan dikatakan Rasul adalah kebenaran.
“Ya kami percaya, karena kau selalu berkata jujur”
Rasul yang mereka kenal sebagai Al Amin telah teruji kejujuran, amanah dan akhlaknya. Itu sebabnya secara spontan mereka mengiyakan pertanyaan Rasul.
“Maka ketahuilah, wahai bangsa Quraisy. Bahwa aku adalah pemberi peringatan kepada kalian, tentang adanya adzab yang teramat pedih” ucap Rasul.
Mendengar kata-kata yang cukup mengejutkan itu, orang-orang menjadi terdiam.
Belum sempat Rasulllah saw. melanjutkan pembicaraannya, tiba-tiba Abdul Uzza (Abu Lahab) berteriak sambil berdiri sehingga mengejutkan para hadirin, ia berkata “Celakalah bagimu Muhammad ! Apakah hanya untuk ini saja kamu kumpulkan kami semua!”
Rasul hanya terdiam, tidak melanjutkan pembicaraan. Karena memang menentang atau memberi nasihat kepada orang yang sedang marah tidaklah akan dapat membuatnya menjadi sadar, bahkan sebaliknya akan bertambah marah. Kemudian Abu Lahab kembali berkata:
“Sama sekali belum pernah aku melihat seorang yang datang pada keturunan orang tuanya dan kaumnya yang lebih keji daripada apa yang engkau datangkan itu”. Saat itu Rasul tetap tenang, tidak terpancing sedikit pun. Sikap ini malah memancing kemarah Abu Lahab lebih dasyat. Emosinya telah menutupi akalnya. Kata-katanya mulai tak terkendali.
Pada saat itulah, turunlah wahyu kepada Nabi saw. yang berbunyi
“Celakalah kedua tangan Abu Lahab dan celakalah”
Abu Lahab semakin dikuasai amarah dan melanjutkan caci makinya:
“Jika apa yang dikatakan Muhammad itu benar, maka aku akan menebusnya dengan harta bendaku dan anakku”.
“Tidaklah berguna daripadanya (Abu Lahab) harta bendanya dan segala usahanya”
Abu Lahab terus berteriak-teriak dan menyuruh orang-orang untuk pergi. Abu Lahab adalah salah satu penguasa kota Mekah yang terkenal bengis. Kekayaan dan kekuasaannya cukup membuat orang-orang merasa takut. Satu persatu orang-orang itu pergi meninggalkan tempat.
Rasulullah pun menghentikan dakwahnya, saat itu juga. Hatinya sungguh sedih karena yang menghalangi dan menyuruh orang-orang Quraisy untuk menjauh adalah pamannya sendiri, dari keluarga terdekatnya, Abu Lahab…
“Api yang menjilat-jilat akan menggulungnya
Begitu pula istrinya, pembawa kayu bakar yang dilehernya ada tali dari sabut”
Al Quran surat Al-Lahab (111): 1-5
Namun sungguh, seruan pertama itu telah menggema diseantero tanah Makkah, menggelegar bagai petir ditengah hari, menyulut kegundahan dan kemarahan bagi kaum musyrikin dan para penyembah berhala. Sekaligus pula menimbulkan gejolak kegelisahan akan hati yang mulai disinari tauhid. Karena konflik sudah semakin terbuka dan akut.
Namun, seruan harus diteruskan. Tak boleh ada kata istirahat. Pertemuan berikutnya masih dilakukan Rasul di bukit Shafa. Dan seperti kemarin, kali ini pun Rasul masih tetap mengucapkan bahwa ia adalah seorang pemberi peringatan. Kemudian berbicara tentang konsep akhirat.
“Wahai kaum Quraisy.
Demi Allah, sesunggunya aku ini diutus Allah kepada kamu dan seluruh umat manusia.
Aku hanyalah seorang pemberi peringatan!”
Orang-orang mulai kembali berkumpul dibawah bukit Shafa. Seperti kemarin, dakwah Rasul cukup menarik hati mereka karena Rasul mengucapkannya dalam bahasa Al Quran yang sangat indah. Dengan tata bahasa yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Dan dengan kandungan yang mengandung inti kebenaran.
“Sungguh kamu akan mati, seperti kamu tidur.
Dan sungguh kamu akan dihidupkan kembali sesudah mati
seperti kamu bangun dari tidur;
Dan sungguh kamu akan diperiksa tentang apa-apa yang kamu kerjakan,
dan sungguh kamu akan menerima balasan yang setimpal,
yang baik akan dibalas dengan kebaikan
dan yang jahat akan dibalas dengan kejahatan
dan sesungguhnya pembalasan itu mestilah ada,
di surga selamanya atau di neraka selamanya”.
Inilah konsep keadilan yang sesungguhnya! Karena itu, ramailah orang-orang. Mereka telah mendengar dengan teling mereka sendiri, bahwa setiap perbuatan akan mendapt balasan yang setimpal. Baik atau buruk.
“Wahai kaum Quraisy.
Hendaklah kamu menyelamatkan dirimu dari api neraka
karena sesungguhnya aku tidaklah mempu sedikitpun di hadirat Allah kelak
untuk membantu kamu.
Sesungguhnya aku ini hanya pemberi peringatan yang nyata
Dan siksa Allah sangatlah keras kelak!”
Kemudian Rasul menyebut satu persatu para bani yang ada di Mekah, orang-orang Quraisy. Rasul ingin dakwah ini selain ditujukan secara universal tetapi juga menyentuh sisi personalnya. Karena, salah satu sifat orang Quraisy adalah kesenangan mereka disanjung, diistimewakan, dipuji-puji. Sungguh, mereka adalah orang-orang yang sombong.
“Wahai orang-orang keturunan Ka’ab bin Luayyi, hendaklah kamu menyelamatkan dirimu sendiri dari api neraka!”
“Wahai orang-orang keturunan Murrah bin Ka’ab, hendaklah kamu menyelamatkan dirimu sendiri dari api neraka!”
“Wahai orang-orang keturunan Abdul Manaf, hendaklah kamu menyelamatkan dirimu sendiri dari api neraka!”
“Wahai orang-orang keturunan Abdu Syamsin, hendaklah kamu menyelamatkan dirimu sendiri dari api neraka!”
“Wahai orang-orang keturunan Zuhrah, hendaklah kamu menyelamatkan dirimu sendiri dari api neraka!”
“Wahai orang-orang keturunan Abdul Muthalib, hendaklah kamu menyelamatkan dirimu sendiri dari api neraka”
“Wahai Abbas bin Abdul Muthalib, hendaklah kamu menyelamatkan dirimu sendiri dari api neraka!”
“Wahai Haffiyah bibik Muhammad, hendaklah kamu menyelamatkan dirimu sendiri dari api neraka!”
Kemudian Rasul berseru pula menyebut nama putri bungsu tercintanya.
“Wahai Fatimah anak perempuan Muhammad, engkau mintalah sekehendakmu semua harta bendaku. Tetapi aku tidak tetap tidak akan mampu sedikitpun di hadapan Allah untuk menolong kamu kelak”
Penyebutan nama anaknya sendiri dalam dakwah awal-awal ini, sesungguhnya bagian dari strategi Rasul. Rasul benar-benar ingin menunjukkan kepada mereka, bahwa inilah agama yagn paling adil yang pernah mereka temui. Setiap orang harus menanggung sendiri perbuatannya. Tidak ada tolong-menolong di akhirat nanti. Tidak ada katabelece. Surat sakti. Atau karena mentang-mentang.
Fatimah memang anak Rasul, tapi itu tidak ada hubungannya dengan ‘pembalasan yang setimpal’. Fatimah pun harus mempertanggungjawabkan sendiri semua perbuatannya.
Hal mana lagi yang lebih indah dari agama Islam?

