Bab IV: Siksa Saja Kami!
- Tuesday, February 23, 2010, 9:39
- Sejarah Hidup Nabi
- Add a comment

Nabi Muhammad SAW
Setiap suku mulai menangkapi anggota mereka yang masuk Islam dan menahan mereka. Mereka melampiaskan kemarahan dengan mencambuk, tidak memberi makan dan minum atau dijemur pada saat terik matahari.
Tapi, terhadap Sang Nabinya sendiri, mereka hanya bisa mencaci, memfitnah dan paling banter meludahi beliau atau melemparinya dengan kotoran unta. Tapi lebih dari itu, mereka tak berani sama sekali. Karena ada Abu Thalib dibelakang Muhammad.
Suatu hari, para pembesar Quraisy berkumpul di Hijr Ismail. Datanglah Rasul dan melakukan thawaf. Melihat Rasul, mereka segera bangkit dan seperti melakukan olahraga kesenangan, mereka secara bersemangat ‘menyambut’ Rasul.
“Lihatlah ini, pemimpin para orang gila telah datang!” teriak mereka dengan sangat keras. Celaan penuh cemooh ini mereka ulang-ulang terus. Rasul diam saja. Raut wajah beliau tidak berubah sedikit pun. Ia berusaha khusu’ dalam berthawaf kendati dengan kewaspaan yang tak lepas. Sementara caci maki itu terus menggema. Usai thawaf, beliau melihat kepada para pengganggunya. Sambil tersenyum beliau berkata:
“Apakah kalian tidak mendengar, wahai orang-orang Quraisy? Demi Dzat yang diriku berada dalam KekuasaanNya. Sesungguhnya aku akan membawakan binatang sembelihan untuk kalian”
Seketika kaum Quraisy itu terdiam, tidak bergerak. Jawaban Rasul benar-benar diluar dugaan. Membawa binatang sembelihan bagi bagi bangsa Arab adalah seperti membawakan mereka rejeki yang baik. Karena orang Arab itu gemar berkurban. Dan daging kurbannya mereka makan sendiri atau dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin. Seperti yang dilakukan para nenek moyang mereka. Akan tetapi tradisi berbagi rejeki ini terkikis sedikit demi sedikit karena mereka kini menjadi semakin bakhil dan rakus. Daging kurban itu mereka makan sendiri.
Tapi kerhormatan yang mengiringi kurban tetap melekat pada mereka. Itu sebabnya mereka kaget ketika Rasul mengatakan akan membawakan mereka kurban atau binatang sembelihan. Mereka amat senang dan langsung bersikap ramah pada Rasulullah. Rasul, masih dengan senyum yang seperti ketika ia datang, Cuma menganggukkan kepala dan segera berlalu.
Tentu saja Rasul akan membawakan binatang sembelihan kepada mereka. Tapi binatang itu akan disembelih atas nama Allah Yang Maha Berkuasa! Bukan atas nama berhala-berhala mereka!
Sebuah jawaban yang tepat, jitu sekaligus cerdas!
Namun ini Cuma gangguan kecil yang selalu ada setiap saat. Begitu pula keesokan harinya. Ketika Rasul datang kembali ke Ka’bah untuk tawaf, orang-orang Quraisy itu kembali mengganggu.
Kali ini sambil mencemooh, mereka mengepung Rasulullah. Rasulullah tahu, mereka sedang berusaha memancing emosinya agar melayani nafsu marah mereka. Itulah sebabnya Rasul diam saja dan meningkatkan kewaspaan. Salah seorang dari mereka bahkan menarik selendangnya. Kini Rasul menjadi sangat waspada. Ia tak mungkin menarik selendang itu. Akan terjadi tarik menarik yang bisa berujung jatuhnya beliau menubruk salah seorang dari mereka. Karena kekuatan si Quraisys yagn memegang selendangnya, kuat sekuat postur bongsornya. Itu sebabnya Rasul segera melepaskan selendangnya. Dan si Quraisy tentu saja jatuh terjerembab. Menyaksikan temannya jatuh, semakin gemuruhlah suasana. Teriakan dan hentakan kaki silih berganti. Tangan-tangan mereka mulai menepak kepala Rasul dan menarik jenggotnya. Suasana magis yang menyanyat hati mulai turun perlahan-lahan. Seorang mulia disakiti, apakah Tuhannya akan berdiam diri?
Rasul tetap tidak bergerak. Ia tidak mau memulai perkelahian itu. Karena bila ia yang memulai, maka Quraisy itu punya alasan untuk membunuhnya. Bukankah mereka bisa mengatakan bahwa Rasul telah memukuli mereka dan mereka terpaksa membalas? Ini bisa seperti membuka tutup panci berisi belerang mendidih. Cipratannya akan melepuhkan kulit muka!
Itu sebabnya Rasul hanya bisa bersikap bertahan. Tapi ia pun yakin, Quraisy itu tak mungkin berani mulai memukulnya. Abu Thalib sebagai pemimpin klannya Rasul, klan Hasyim, bisa meneriakkan serangan balasan. Dan akan dimulailah perang antar suku di Mekah ini.
Sesuatu yang sangat mereka hindarkan. Huru hara akan membuat orang-orang menjauhi Mekah. Dan itu berarti bunuh diri!
Rasul dalam posisi terkepung. Tapi ia tetap bertahan dan waspada. Lalu, datanglah Abu Bakar yang langsung tersulut belas kasihannya. Sungguh, siapa yang sanggup melihat orang yang dicintai berada dalam posisi seperti hewan ternak yang digiring ke pojok untuk ditangkap dan disembelih?
Menagislah Abu Bakar. Air matanya jatuh seperti hujan disebuah sore yang murung.
“Apakah kalian akan membunuh seseorang hanya karena ia mengatkan bahwa Tuhannya adalah Allah?” jerit Abu Bakar.
Merasa sudah cukup, karena datangnya Abu Bakar bisa menjadi saksi yang memberatkan, mereka menghentikan teror itu. Mereka lalu membubarkan diri. Abu Bakar membimbing Rasul dan bersama-sama mereka pulang. Hari itu usai dengan membawa tetes demi tetes airmata Abu Bakar yang dicintai dan mencintai Rasul.
Pada suatu hari, seorang pengecut meludahi Rasul dari atap rumahnya.
“Cih!” Rasul kaget bukan main. Beliau langsung mengusap kepalanya. Membersihkan dan melanjutkan perjalananannya. Tidak ada reaksi berlebihan di sini. Tidak membalas? Terlalu besar energi dan waktu yang dikeluarkan hanya untuk seorang pengecut dengan ludah busuknya.
Keesokkan harinya hal itu ternyata terulang lagi. Begitu seterusnya. Rasul tetap sabar. Mengusap kepalanya, membersihkan dan kembali berjalan. Rasul jadi terbiasa dengan ‘ritual’ kecil ini. Akan tetapi hari berikutnya tidak ada yang meludahi. Sejenak, heran juga Rasul. Apa orang ini sudah kapok? Rasanya kok tidak mungkin. Penasaran, Rasul bertanya kepada tetangganya.
“Ah, si fulan sedang sakit. Untuk apa kau bertanya, hai Muhammad?” ucap tetangganya ketus. Dia juga tidak suka dengan Rasu. Rasul tersenyum dan menjawab:
“Innalillahi. Kasihan dia. Aku akan menjenguknya nanti sepulang urusanku”
Lalu, pergilah Rasul meninggalkan ketercengangan di wajah sitetangga. Menjenguk? Apa pula maksudnya ini?
Setelah shalat, Rasul menengok orang yang biasa meludahinya itu. Tentu saja, orang itu kaget bukan main. Sekejab, ia merasa takut Rasul balas menyakitinya. Padahal ia sedang terbaring lemah diatas tempat tidur. Namun Rasul datang dengan senyum tenang dan salam pembuka yang sangat sopan.
“Aku dengar kau sakit, wahai Fulan?”
Orang itu Cuma mengangguk pelan dan melihat kalau Rasul Cuma datang sendirian. Perlahan, ia melihat ada sinar menyelimuti wajah Rasul. Cahaya itu begitu indah dan mesra. Sebuah cahaya yang sesungguhnya hanya bisa dilihat oleh orang-orang mukmin.
Seketika penyesalan merambati hatinya.
“Aku berdoa kepada Tuhanku agar memberi kesembuhan padamu” kata Rasul.
Sebuah doa yang sederhana. Meminta kesembuhan.Tidak lebih? Seperti misalnya agar Tuhannya membalas kejahatan yang telah dilakukannya selama ini kepada Rasul? Atau memintanya masuk Islam?
Ah, benar-benar Rasul penuh kejutan manis. Orang itu tersenyum malu dan tersipu-sipu. Ia seperti anak kecil yang ketahuan mencuri sebatang loli dari toples ibunya.
“Maafkan aku, ya Rasul Allah, Kini aku beriman kepadamu”
Inilah mulut yang ludahnya paling bernilai dan pernyataannya paling indah yang didengar Rasul. Rasul tak henti-hentinya mengucap Syukur Alhamdulillah.
Abu Jahal juga termasuk orang yang kerap mengganggu Rasul. Bila Rasul hendak pergi shalat, segera Abu Jalah menghadang dan menggangu beliau.
Kali ini, Rasul menampakkan kemarahan di wajahnya. Namun sikap beliau tetap tenang. Kemarahannya tercermin dari pilihan kata-katanya.
Mendengar kata-kata Rasul kali ini yang mencerminkan ketidaksukaannya, Abu Jahal menantang Rasul :
“Muhammad, apakah engkau berani mengancam aku? Tidakkah engkau tahu, bahwa aku ini seorang yang memiliki harta berlimpah dan kawan yang banyak? Aku adalah orang yang berkuasa di Mekah. Sedangkan kau, siapakah dirimu? Ha? Apa kau berani padaku?”
Sungguh sombong kata-kata yang berhamburan dari mulut Abu Jahal. Ia mengira, harta yang banyak, kawan yang siap membela dan jabatan bisa membuat seseorang menjadi hebat atau mulia.
Tidak. Sesekali tidak. Semua itu Cuma laksana planton-planton kecil yang berenang-renang di air. Banyak sekali dan indah-indah. Tapi, bisakah ditangkap? Disentuh? Atau bahkan di makan?
Seketika itu juga Allah menurunkan wahyu kepada Nabi saw.
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas.
Karena dia melihat dirinya serba cukup.
Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali (mu).
Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat?
Bagaimana pendapatmu jika orang yang dilarang itu berada diatas kebenaran,
atau dia menyuruh untuk bertakwa (kepada Allah)?
Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling ? Tidaklah ia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Melihat segala perbuatannya?”
Rasulullah, seperti bisa hanya mengaggap angin lalu dan segera pergi. Walau pun telah mendengar wahyu Allah yang mengecamnya, kekejaman dan kebodohan Abu Jahal tidaklah surut. Kiranya Allah telah menutup hati dan matanya dari sinar kebenaran.
Pernah suatu saat ia berkata:
“Apakah Muhammad sujud dan menempelkan dahinya di tanah (shalat) di depan kalian?”
“Benar,” jawab seseorang.
“Demi latta dan Uzza, andaikan aku melihatnya, tentu kuinjak tengkuknya dan kulumuri mukanya dengan debu” teriak Abu Jahal.
Lalu dia menemui Rasulullah saw. yang sedang shalat dan bermaksud hendak menginjak tengkuk beliau saw. Namun, ia tiba-tiba menghentikan langkahnya. Wajahnya gemetar menahan kengerian yang terlihat di pelupuk matanya. Ia mundur dengan berlindung dibalik kedua tangannya. Nafasnya memburu, keringatnya bercucuran.
“Ada apa dengan dirimu wahai Abul Hakam ?” tanya mereka
“Antaraku dan dia seperti ada parit dari api dan sekumpulan makhluk menyeramkan dan bersayap beeerdiri disekeliling Muhammad”
Lantas Rasul bersabda “Andaikan dia sedikit lagi mendekatiku, tentu para malaikat akan menyambarnya sepotong demi sepotong”.
Dan ketika itu turunlah ayat :
Oh, janganlah begitu! Sesungguhnya jika ia tidak menghentikan perbuatannya itu,
tentu akan Kami (Allah) Tarik ubun-ubunnya,
(yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.
Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya).
Kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabbaniyah.
Sekali-kali janganlah kamu patuh padanya,
dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)”
Al Quran surat Al Alaq (96): 15-19
Begitulah perlakuan yang diterima Rasul. Namun, apapun dan bagaimana pun situasinya, Rasulullah tak pernah hilang kendali. Logika berpikirnya tetap terstruktur, kata-katanya selalu penuh perhitungan. Beliau tak pernah sekali dan sedikitpun membiarkan emosi menutupi kalbunya. Sikap sabar menjadi rambu yang sangat logis.
Lebih dari itu, Rasul selalu memasrahkan dirinya kepada Allah SWT. Karena ia hanyalah seorang hamba. Yang lemah dan tiada daya. Bukankah kepada tuannya seorang hamba meminta perlindungan dan berserah diri?
