Bab IV: Sayap Sayap Abu Thalib
- Tuesday, February 23, 2010, 9:30
- Sejarah Hidup Nabi
- Add a comment
Ketika Rasul Allah mengajarkan tentang konsep monotheisme atau hanya percaya satu Tuhan, kaum Quraisy masih menganggapnya hal yang biasa. Ini seperti orang Nasrani atau Yahudi atau juga Kaum Hanif. Mereka takk perduli karena buat mereka, menambah satu tuhan lagi, misalnya tuhan orang Nasrani, sungguh, mereka tidak keberatan. Tapi bila berhala mereka harus disingkirkan? Itu ide yang gila, menurut mereka.
Itulah sebabnya dengan konsep monoteheisme ini, Muhammad belum mereka anggap berbahaya. Namun melihat semakin banyaknya orang yang terpikat, mereka mulai waspada. Apalagi, kini Rasul Allah secara terang-terangan telah menyerang berhala-berhala mereka. Kini mereka mulai pasang kuda-kuda dan membentuk aliansi diantara para klan agar ajaran ini bisa mereka bendung.
“Apakah mereka mempersekutukan Allah
dengan berhala yang tak dapat menciptakan sesuatu pun?
Sedangkan berhala itu sendiri buatan manusia
Dia tidak mampu memberi pertolongan
Kepada para penyembahnya
Bahkan kepada dirinya sendiri
Jika kamu, hai orang-orang musyrik!
Menyembah berhala untuk minta petunjuk
Tidakkah berhala itu memperkenankan seruanmu?
Sama saja kamu berseru atau bahkan berdiam diri”
Al Quran surat Al A’raaf (7): 191-193
Sesungguhnya, yang mereka takutkan bukanlah berhala mereka yang dicela. Karena mereka juga terbiasa mengagungkan satu berhala dan menyingkirkan berhala lainnya. Atau malah menjual berhala yang dianggap tidak lagi membawa berkah dan menggantikannya dengan berhala yang lebih ia sukai.
Tapi ide untuk menyapu bersih berhala adalah ide yang cukup mengerikan yang sulit mereka bayangkan akibatnya. Karena begitu berbahayanya.
Jika tak ada berhala, itu berarti Kabah tak punya peran apa-apa. Dia Cuma seonggok batu-batu yang berbentuk segi empat. Dan jika tak ada berhala di Kabah, maka tak akan ada lagi yang berhaji di sini. Tak ada lagi musim-musim dimana para jamaah akan menyemut di Mekah dan kemudian membelanjakan uang mereka di sini. Tak akan ada lagi yang datang….
Berhala-berhala itulah yagn mendatangkan semua kemakmuran ini. Banyaknya orang berhaji yang datang ditambah reputasi Kabah sejak dulu sebagai Rumah Tuhan, menjadikan Mekah sebagai pusat perdagangan, urat nadi perekonomian bangsa-bangsa Arab. Mekah telah berubah menjadi kota internasional. Kota metropolitan dengan segala kemajuan dan kemakmurannya.
Dan kini, Muhammad ingin menyingkirkan berhala-berhala itu dan menggantikannya dengan Satu Tuhannya yang tidak kelihatan. Sungguh sungguh sebuah bencana! Mekah akan berubah menjadi kota mati karena tidak ada lagi para haji yang berdatangan membawa pundi-pundi uangnya. Kabah akan ditinggalkan dan dilupakan orang-orang.
O, betapa mengerikan hal itu? Kesengsaraan dan kemiskinan adalah ancaman serius yang harus dimusnahkan. Bagaimanapun caranya!
Kaum musyrikin itu sesungguhnya sudah sangat ingin membunuh Muhammad. Namun mereka juga tahu Muhammad adalah anggota klan Hasyim, dimana Abu Thalib menjadi ketua klan ini. Mereka juga tahu, sejak remaja, Muhammad tinggal bersama pamannya itu dan hubungan mereka berdua sangatlah erat. Tak ada penduduk Mekah yang melupakan kenangan saat Muhammad duduk dibonceng unta oleh Abu Thalib ketika akan berdagang ke negeri Syam! Saat itu Abu Thalib mengajak Muhammad ikut berdagang sementara anak-anaknya sendiri ditinggal pergi!
Jadi sudah bisa dipastikan, ketua klan Hasyim akan memberi perlindungan kepada Muhammad. Kendati hal itu belum tercetuskan secara resmi seperti perlindungan yang diberikan oleh Hamzah dengan suara menggelegak kepada Muhammad. Tapi Hamzah bukanlah ketua klan. Ia tak punya kekuatan apapun dalam hal ini. Justru dukungan Abu Thaliblah yang mereka takuti.
Walau pun Abu Thalib seorang tua yang fisik maupun hatinya lemah, tapi jabatan yang disandangnya bisa membuat seorang Hamzah pun tak akan berani menentangnya. Sayap sayap Abu Thalib memang lembut dan halus, namun magnet yang tercipta cukup membuat siapapun akan aman dalam naungannya.
Sedang Hamzah menawarkan perlindungan yang amat heroik buat Muhammad. Bak singa padang pasir, ia berjanji akan melindungi keponakan yang dicintainya. Tetapi singa padang pasir ini tak punya istana. Justru Abu Thalib dengan sayap lembutnya lah yang memikinya dan akan mampu melindungi Muhammad dari gangguan fisik atau bahkan pembunuhan.
Aliansi para klan yang telah terbentuk ini mengadakan rapat untuk membahas situasi yang mulai tak terkendali. Dan masing-masing mengeluarkan unek-uneknya. Ada yang mengumpat Muhammad, mencacinya bahkan banyak pula yang sudah sangat ingin membunuhnya.
“Hei, kalau bicara jangan sembarangan!Kita tak bisa membunuh Muhammad!” Seseorang mengingatkan akan kata-kata yang sudah kebablasan.
“Benar, kita harus hati-hati. Abu Thalib sebagai ketua klan Hasyim tentu akan melindungi Muhammad. Kalau kita bunuh Muhammad, Abu Thalib bisa marah besar dan bisa-bisa kita akan berperang dengan kaum kita sendiri” ujar yang lainnya.
Memang selama Muhammad berada dalam lindungan Abu Thalib, maka akan amanlah dia. Tak akan ada yang berani mengusik. Menilik masalah yang mereka hambati, akhirnya mereka sepakat untuk menemui dan berbicara kepada Abu Thalib agar mau ‘melepaskan’ Muhamamad dari perlindungannya.
Maka, berangkatlah 10 senator tua berpengaruh yang gelisah ke rumah Abu Thalib. Mereka adalah Utbah bin Rabi’ah, Abu Sufyan bin Harb, Syaibah ibn Rabi’ah, Abul Bahktariv, Al Jawad bin Al Muthalib, Abu Jahal bin Hisyam, Al Walid bin Mughirah, Nubaih bin Al Hajjaj dan Al-Ash bin Wail.
Delegasi para senator ini dipimpin Abu Sofyan. Mereka berbicara langsung kepada Abu Thalib.
“O, Abu Thalib. Keponakanmu telah membuat kami porakporanda. Ia kini mengutuk tuhan-tuhan kami dan menista agama kami. Muhammad akan membawa bencana yang lebih besar yang tak akan mampu kita semua membayangkannya. O, Abu Thalib, kau harus menghentikannya. Bebaskan kami dari gangguannya. Beri nasehat padanya. Atau, kalau kau tak sanggup menghentikannya, lepaskan dia! Serahkan dia pada kami!”
Abu Thalib, sangat memahami kegundahan mereka. Ia tak perlu mencari contoh jauh-jauh. Kedua putranya sendiri, Ali dan Ja’far, telah lebih dulu memeluk agama Islam. Kendati kecemasannya tidaklah sehebat para tamu itu. Abu Thalib cenderung memberi kebebasan kepada keluarganya untuk memeluk atau menolak ajaran Muhammad. Tapi ia tahu dengan pasti kepribadian Muhammad. Bukankah selama ini, ia yang mengasuh, mendidik dan mencintainya? Mengapa pula harus ragu? Barangkali Abu Thalib belum yakin benar akan wahyu itu, tetapi bukan berarti ia tak percaya pada Muhammad. Usia tua dan kelemahan hatinya kelihatannya membuat Abu Thalib tak sanggup untuk berubah. Hidayah Allah masih jauh dari kalbunya.
Namun ajaran Muhammad terasa dekat di hatinya. Muhammad memuliakan Ka’bah dan menyuruh orang untuk percaya kepada Tuhan yang Esa. Ia melindungi yang lemah, mengerjakan shalat, berbuat kebaikan dan selalu bersyukur kepada Tuhannya.
“Aku belum pernah melihat Muhammad melakukan perbuatan yang merugikan orang banyak. Bahkan, dia banyak melakukan kebaikan dengan menolong orang lain yang kesusahan, setelah tak ada satu pun dari kita yang mau bertindak…”
ucap Abu Thalib. Lembut namun langsung kepada sasaran. Secara halus Abu Thalib ingin mengatakan bahwa Muhammad jauh lebih baik dari mereka yang hadir itu. Karena mereka sesungguhnya ikut bertanggungjawab atas situasi yang bobrok ini. Setiap dari mereka menyumbang kemaksiatan dan kemiskinan di kota ini.
Jawaban lugas dari Abu Thalib jelas mengecewakan para senator itu. Pulanglah mereka dengan kegeraman yang memuncak. Si tua Abu Thalib tak mau melepas perlindungannya kepada Muhammad! Demikian umpat mereka.
Situasi kembali tak terkendali. Tak seorang Quraisy pun sanggup menghadapi badai pesona agama baru ini. Layaknya bola salju, Islam siap menghantam mereka pada titik terakhir perlawanan dengan kekuatan yang luar biasa.
Sementara makin hari makin banyak saja orang-orang Mekah yang masuk Islam. Bahkan, kini telah meluas ke Yastrib dan Yaman! Orang-orang itu banyak mendengar kebenaran dan keindahan yang ditawarkan agama baru ini. Sehingga berbondong-bondonglah mereka menghadap Rasul Allah untuk mengucapkan kalimat syahadat. Kaum musyrik, sangat gerah dengan situasi ini. Mereka menjadi amat marah dan geram. Bagai serigala kelaparan, mereka bertingkah amat kejam kepada siapa saja yang berani memeluk Islam.
