Bab IV: Para Pelopor Yang Gagah Berani

Muhammad, yang kini telah menjadi Rasulullah, tahu dengan pasti kondisi masyarakatnya saat itu. Paganisme sudah mengurat dalam darah mereka dan rasanya sudah terlalu sulit untuk diubah. Ia seperti mengendong sebuah gunung untuk kemudian didaki oleh sekumpulan keledai. Sebuah perbuatan yang sia-sia. Ia membawa sensasi spiritualisme di tengah masyarakat yang punya satu juta tuhan yang bisa mereka sembah bergantian seumur hidup mereka. Benar-benar sebuah ajaran radikal yang akan membawa kesulitan tak terbayangkan.

Tapi Rasul yang lembut hati itu tahu, ia berada pada titik tak mungkin mundur. Ia sudah tidak bisa lagi hanya bersikap melihat dan mempertanyakan mengapa masyarakatnya sudah sedemikian rusaknya. Saatnyalah ia diberi tugas oleh Allah yang Maha Esa untuk bangun dari tidur suri. Mengajak umat manusia untuk percaya kapada keesaan Allah.
Namun memang sulit menyodorkan konsep monotheisme, satu tuhan, untuk mereka yang sudah terbiasa menyembah banyak tuhan. Lagipula, mungkinkah mereka mau meninggalkan agama yang sudah mereka percayai secara turun temurun, sejak dari nenek moyang mereka?

Kepercayaan terhadap berhala adalah seperti harga mati. Tak ada tawar menawar karena ini sudah menyangkut banyak masalah. Kendati mereka bersedia berganti berhala yang berarti berganti tuhan, tapi untuk menggusur berhala sama sekali dan diganti dengan tuhan baru yang berbeda segalanya? Wah, ini betul-betul seperti menggantang asap.
Muhammad Rasulullah tahu, ia butuh strategi yang cermat, jitu dan hati-hati untuk menjalankan perintah Allah ini. Harus ada konsep perjuangan yang matang, sebuah cetak biru.

Dan sebagai anak bangsawan yang pernah dididik langsung oleh pemimpin kaum Quraisy yang berwibawa, Abdul Muthalib, Rasul tahu sebuah barisan yang kuat lebih diperlukan untuk mendobrak tembok ketimbang berkoar-koar tak menentu pada sebuah keramaian, misalnya. Memang ajarannya akan didengar, tapi setelah itu akan langsung hilang bak buih. Syukur-syukur ia tidak dibunuh
Untuk itu, Rasul Baru itu juga tahu ia butuh barisan pendukung yang siap menjadi religy agen. Orang-orang yang bisa ia didik, asuh dan bina agar mampu menyebarkan wahyu Allah ke sekeliling mereka dengan menjadi teladan. Mereka diharapkan menjadi baris pertama yang akan melahirkan baris kedua, ketiga dan seterusnya. Strategi ini akan mengambil contoh seperti gelombang tsunami. Dimana satu gelombang akan disambut dan disambung oleh gelombang berikutnya, dengan kekuatan yang lebih dasyat untuk sampai ke bibir pantai.
Rasul butuh para pelopor (As Sabiqunal Awwalun). Para pelopor yang gagah berani sekaligus rendah hati. Kuat sekaligus amat penyayang.

Tapi siapa para pelopor itu? Siapa mereka yang bersedia menjadi pengikutnya? Siapa yang mau mendengarkan ajakannya tentang konsep satu tuhan, sementara mereka terbiasa membuat bahkan menjual tuhan-tuhan baru setiap hari? Siapakah mereka?
Kendati tidak pernah berhasrat pada urusan politik, namun bibit-bibit sebagai negarawan cukup menonjol pada diri Rasul. Itu pula sebabnya dalam menentukan siapa saja yang akan diajak bergabung dalam barisan pertama, sudah terpetakan dalam benak Rasul. Kesediaan Khadijah menjadi pengikutnya yang pertama, seakan menghapuskan kabut dimata Rasul. Ya, mereka yang pertama akan diajaknya adalah tentu saja keluarganya. Pertama, istrinya sendiri, Khadijah yang tanpa diminta malah telah menyodorkan dirinya sendiri. Dirumahnya ada anak-anak yang bisa ia jadikan sebagai umatnya. Ada Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan sibalita Fatimah.
Juga ada Ali bin Abi Thalib dan Zaid bin Haritsah yang telah diangkatnya menjadi anak.(2) Al buthy, hal 66.
Kendati masih anak-anak, namun Rasul tahu, ia harus mengajak anggota keluarganya lebih dulu dan meyakinkan mereka akan Keesaan Allah, sebelum ia mengajak orang lain. Karena, bagaimana orang akan percaya dengan ajarannya, bila keluarganya sendiri menolak? Sungguh aneh dan lucu.
Jadi, Rasul tetap mengajak mereka dan mendidik mereka dengan keseriusan yang sama besarnya seperti mendidik pengikutnya yang dewasa.

Sejarah mencatat kejadian istimewa yang sungguh mengesankan berkaitan dengan Islamnya Ali bin Abu Thalib. Sebuah peristiwa yang sering diulang-ulang untuk menunjukkan salah satu keistimewaan Ali, sebagai satu dari beberapa pelopor.
Suatu hari, tatkala Rasul tengah beribadah kepada Allah bersama Khadijah, Ali yang memang tinggal bersamanya dan diangkat sebagai anak, tiba-tiba datang. Ia melihat apa yang dikerjakan paman dan bibinya itu dengan wajah tercengang. Hai, apapula yang sedang dilakukan mereka?
Usai shalat, saat itu pula Rasulullah menjelaskan pada Ali apa yang sedang dikerjakannya.
“Wahai Ali anakku, aku tadi sedang beribadat kepada Tuhanku. Tuhan Yang menciptakan manusia dan alam semesta ini. Tuhan yang Maha Satu dan tiada sekutu baginya”
Inilah kalimat paling abstrak yang harus dicerna oleh Ali yang saat itu masih berusia kira-kira 10 tahun. Sama dengan usia anak kelas 4 atau 5 SD. Sungguh masih sangat muda.
Tuhan yang Maha Satu? Yang tidak punya sekutu? Yang menciptakan manusia dan alam ini? Bagaimana dengan Latta, Uzza, Manat dan banyak lagi yang katanya patut kita sembah?
“Ali, aku ingin mengajakmu masuk agama baru ini. Sebuah agama yang sangat berbeda dengan agama nenek moyang kita. Agama yang menyembah hanya satu Tuhan, itulah Allah. Dan Tuhan mengangkatku sebagai Rasulnya di bumi ini. Aku tawarkan kepada mu untuk ikut, ya Ali”
Ali, dengan pemikiran yang masih sangat muda, mendengar dengan cermat penuturan Rasul. Lalu berkata bahwa ia memutuskan untuk memikirkan dahulu dan merundingkannya dengan ayahnya. Rasul, dengan tenang dan senyum menyejukkan, mengiyakan permintaan itu. Beliau tahu, Ali adalah anak yang cerdas dan sepanjang ia tinggal bersamanya, Ali telah dididiknya dengan baik. Menghargai keinginannya untuk minta waktu memikirkan hal ini, adalah penting karena itu berarti menghargai eksistensi dirinya. Kendati Ali masih berusia 10 th, namun sebuah pemikiran adalah tetap sebuah pemikiran. Dari siapapun pemikiran itu dan bagaimana pun cara yang diambil.

Dan menyikapi pemikiran anak sebagaimana kita menyikapi pemikiran orang dewasa adalah basis penting dalam usaha melejitkan intelektualitas mereka.
Itulah sebabnya Rasul mempersilahkan Ali untuk berfikir sebelum mengambil keputusan maha penting ini. Dan Rasul tidak melakukan intervensi apapun. Dia tidak berusaha membujuk, merayu atau bahkan mengancam dengan halus. Benar-benar dibiarkannya Ali mengambil keputusannya sendiri. Rasul yang bijak itu menganggap, keputusan maha penting ini harus diambil berdasarkan keinginan Ali sendiri. Biarlah dia memutuskan sendiri, Rasul hanya bisa berdoa kepada Allah Sang Maha Pencipta agar membukakan cakrawala spiritualisme Ali agar ia mau menerima kebenaran.
Semalaman, di dalam kamarnya Ali memikirkan semua ucapan pamannya.
Ali tahu, pamannya adalah orang yang paling ia sayangi dan cintai di dunia. Sama seperti ia mencintai orangtuanya sendiri. Rasa cinta Ali kepada sang paman adalah karena pamannya pun mencintai ia dengan cintanya yang besar dan sangat tulus. IDalam menunjukkan kasih sayangnya, sang paman tak pernah membeda-bedakan dengan anak-anak kandungnya. Semua sama-sama mendapat cinta dan perhatiannya. Pamannya membimbingnya dengan lemah lembut, mendidiknya dengan teladan akhlak yang paling mengesankan yang pernah dikenal Ali.
Ia juga tahu, pamannya tak pernah berdusta sekecil dan sekalipun. Dan sekarang ia mengaku bahwa dirinya adalah seorang Nabi dan mengajaknya untuk menyembah Tuhannya. Jika pamannya tak pernah berdusta dan ia percaya padanya, mengapa keterangan ini harus di ragukannya? Tidakkah Muhammad sedang menyatakan kebenaran dan ia ingin Ali ikut bersamanya?
Setelah berpikir semalaman, esoknya Ali menemui Rasul dengan hati dan keputusan yagn bulat.
“Wahai paman! Aku telah memikirkan semua ucapanmu kemarin. Dan aku menerimanya!”
Rasul merasa sangat bahagia mendengar kata-kata Ali.
“Dan aku juga tidak akan memberitahukan ayahku atau meminta pertimbangannya tentang agama baruku ini. Aku diciptakan oleh Allah, dan Ia tidak meminta pertimbangan ayahku waktu menciptakan aku. Jadi, mengapa aku harus meminta nasehatnya saat aku menerima ajaran Tuhanku?”
Kata-kata Ali sungguh tak bisa tergambarkan maknanya. Betapa dalam capaian spiritualisme Ali. Padahal ia masih berusia 10 tahun. Dan betapa dasyatnya karunia Allah ketika Dia memutuskan kepada siapa pengetahuanNya akan Dia titiskan!
Ali adalah anak pertama yang menerima Islam. Kemudian disusul Zaid bin Haritsah, yang juga anak angkat Rasul.
Inilah barisan inti pengikut Rasul yang memberi kekuatan besar dan pondasi kokoh bagi jiwanya sebelum ia melangkah keluar melewati batas halaman rumah. Mereka adalah Khadijah, Ali, Zaid dan anak-anak perempuan Rasul yaitu Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan sikecil Fatimah.

Sebelumnya ia perlu dukungan secara aklamasi, semacam ‘standing ovation’ dari keluarganya. Rasul perlu melihat senyum mereka untuk menyejukkan hatinya, menguatkan niat dan langkah.
Sebuah kebutuhan psikologis yang alamiah.

About the Author

admin has written 998 stories on this site.

-

Copyright © 2010 Muhammad SAW Teladanku. All rights reserved.
Powered by WordPress.org, Custom Theme.