Bab IV: Matahari di tangan kananku! Bulan di tangan kiriku!
- Tuesday, February 23, 2010, 9:41
- Sejarah Hidup Nabi
- Add a comment

Nabi Muhammad SAW
Tak seorangpun sanggup menghentikan atau sekedar membelokkan laju roda-roda cahaya Islam yang menggelinding dengan sangat cepatnya. Barisan kaum muslim makin banyak dan makin rapat.
Hal ini semakin membuat frustasi orang-orang Quraisy. Mereka, sekali lagi bertemu dan aliansi ini sekali lagi membuat strategi baru. Namun kebuntuan menyelimuti mereka.
Para senator merasa putus asa. Karena mereka sudah melakukan apapun, bahkan menyiksa sampai mati, namun Muhammad tetap tegak bagai gunung batu yang menjulang tinggi.
Namun kartu truf masih berada di tangan Abu Thalib. Mereka terpaksa menempuh jalan itu lagi. Tapi strategi harus diubah. Kalau kemarin mereka masih meminta dengan sopan, bagaimana kalau kali ini dengan kekerasan?
Sekali lagi, mereka mendatangi Abu Thalib…
“Hai Abi Thalib, Demi Latta dan Uzza. Kami sudah tidak sabar lagi mendengar nenek moyang kami di cerca dan dijelek-jelekkan. Sekarang kami tak bisa tinggal diam sebelum kau dapat menghentikan kegiatannya. Jika kau tidak melakukan hal itu, dia dan kau akan kami perangi hingga salah satu pihak hancur binasa..!”
Genderang perang telah ditabuh. Ultimatum telah pula dicetuskan. Abu Thalib, orangtua yang lembut itu kini harus menanggung beban yang tiba-tiba disandarkan di bahunya. Padahal, dia samasekali tak mengerti apa yang telah terjadi. Seperti pusaran air, ia bagaikan daun kering yang diletakkan ditengah-tengah pusaran.
Menagapa tak menghentikan pusarannya? Atau menambah volume air agar kekuatan rollingnya berkurang?
Tapi Abu Thalib adalah orangtua yang walaupun lemah, ia punya keteguhan hati yang sulit digoyahkan. Kendati ancaman telah disebutkan, ia tetap tenang dan teguh akan melindungi Muhammad. Ia menolak menyerahkan Muhammad pada mereka. Tidak mungkin! Ia tak kuasa membayangkan betapa akan melakukannya: meneriakkan di Ka’bah atau menyewa tukang teriak di pasar Okadz, bahwa ia tidak lagi bertanggung jawab atas Muhammad dan segala tindak tanduknya. Akibatnya bisa sangat mengerikan baginya: karena orang yang dilepaskan atau diusir dari klan –dan disebut khali- berarti ia menjadi seorang buronan. Ia rentan, dapat diperlakukan apa saja. Dibunuh sekalipun, tanpa ada yang membela atau menuntut balas.
Abu Thalib tahu benar betapa mereka yang menjadi khali, kalau tak ada klan lain yang mau menerima, berubah menjadi penjahat. Ia akan mencari rekan senasib, bergabung dalam komplotan perampok gurun yang kerjanya mengganggu kafilah.
Betapa mengerikan membayangkan nasib Muhammad akan seperti itu!
Dan jawaban yang kedua ini pun sama pasti dengan yang pertama. Ia tak akan menyerahkan Muhammad kepada mereka!
Seperti yang pertama, kali ini pun orang-orang Quraisy itu pun pulang dengan kecewa dan marah. Namun setidaknya saat ini mereka sudah menyatakan keputusan politik penting. Bahwa garis demarkasi telah dihapus. Batas perlindungan telah dihancurkan. Dan konsekuensi berupa pembunuhan telah diisyaratkan. AbuThalib pun amat menyadari hal itu.
Itulah sebabnya ia langsung menemui Muhammad dan menceritakan detail pertemuan yang telah terjadi antara dirinya dan orang-orang Quraisy.
“Wahai Muhammad, ketahuilah. Orang-orang Quraisy baru saja datang ke rumahku. Dan mereka menegaskan tak akan mau lagi bersabar dalam menghadapimu. Mereka telah mengumumkan perang terhadapmu dan tak perduli atau takut lagi padaku. Mereka tetap ingin menghancurkanmu”
Rasul mendengar penjelasan paman yang dicintainya dengan seksama dan tenang. Ia perhatikan tiap kalimat yang terucap dari bibir Abu Thalib. Lalu Rasul menjawab:
“Paman, bagaimana kalau aku mengajak mereka pada suatu kebaikan?”
“Apa maksudmu?
“Aku ajak mereka untuk mengucapkan satu kalimat, yang dengannya mereka akan mendapatkan kebahagiaan dunia akhirat. Mereka juga akan dipatuhi oleh bangsa Arab bahkan mereka dapat menguasai dunia…” kata Rasul dengan tenang.
“Kalimat apakah itu?” Penasaran Abu Thalib dengan penjelasan keponakannya itu.
“Dengarkanlah paman. Kalimat itu adalah Laa Ilaaha Illallaah”
“Muhammad….Bukan itu yang menjadi persoalan” Putus asa rasanya Abu Thalib dalam menghadapi Muhammad yang tak pernah sekalipun terpancing amarah atau sedikit saja kekesalan dalam hatinya.
“Ini menyangkut keselamatan diriku dan juga keselamatan dirimu. Wahai Muhammad, janganlah engkau membebani diriku dengan persoalan-persoalan yang tak akan sanggup aku hadapi. Karena itu, aku mohon kepadamu, pertimbangkanlah sekali lagi seruan orang-orang Quraisy itu..” kata Abu Thalib.
Wajah tuanya terlihat jadi semakin berkerut dan semakin muram. Ia sungguh berasal dari generasi pendahulu yang sudah lamban dan tertatih tatih. Hidupnya sudah teramat panjang. Dan ia segan bila masih harus berjibaku dengan masalah-masalah kehidupan lagi. Ia ingin hidup tenang. Ia ingin bisa duduk-duduk dibangku terasnya besama istri. Sambil menikmati sepiring kurma dan segelas susu unta. Buatnya, itulah impian terindah yang bisa ia bayangkan.
Jawaban Abu Thalib sungguh menyedihkan Rasul Allah. Karena ia menyangka pamannya telah berubah sikap tak mau lagi melindunginya. Abu Thlaib hendak menyerahkan dirinya kepada kaum musyrikin Quraisy. Wajahnya ikut muram seperti wajah Abu Thalib. Kali ini suaranya terdengar bergetar dan seperti menahan gejolak kalbu.
“Paman, sekiranya mereka dapat meletakkan matahari di tangan kananku. Dan meletakkan bulan di tangan kiriku. Agar aku menghentikan seruan dari Tuhanku…ketahuilah paman. Aku tidak akan meninggalkannya hingga tiba saat Allah memenangkan agamanya atau aku binasa karenanya”.
Rasul Allah yang wajahnya selalu dipenuhi cahaya Ilahi ini, kini telah menggadaikan hidupnya.
Lalu air mata jatuh di pipi Rasul Allah tercinta. Kesedihan sungguh-sungguh melingkupi kalbunya. Sesungguhnya ia tidak ingin dan tak mungkin mencelakakan paman yang dicintainya setulus hati itu. Baginya, Abu Thalib adalah orangtua yang sesungguhnya. Ialah yang mengasuhnya, mendidiknya dan menyiramkan cinta pada kalbunya setiap hari. Betapapun Rasul mencintai Abu Thalib, namun ia tak akan sanggup mengubah hati seseorang untuk menerima hidayah Allah. Kecuali atas kehendak Allah sendiri.
Namun bila Abu Thalib memintanya untuk menghentikan dakwah ini, ia tak akan mungkin mengabulkannya.
Biarpun semua benda angkasa berkumpul di tangannya pun, tak mungkin ia mundur. Ini adalah konsekuensi yang mesti diterimanya. Dan hanya kepada Allahlah ia berserah diri. Hanya kepada Allahlah segala hal bisa terjadi. Jika ia tidak yakin dengan janji Allah, lalu, kepada siapa lagi? Bukankah semua ini milik Dia? Dan akan kembali kepada Dia? Langkah pertama sebuah perjuangan adalah sikap pasrah. Berserah diri dengan tidak menyisakan ttmpat untuk hal hal lain.
Kata-kata Muhammad menggambarkan kedasyatan imannya. Kedalaman tauhidnya. Dan sungguh, tak bisa tergambarkan betapa Islam telah terpatri dengan kuat dalam hatinya.
Gemetarlah Abu Thalib mendengar jawaban Muhammad. Ia tak sanggup lagi membayangkan ada perumpamaan yang sedemikian hebat dan menakjudkannya seperti pilihan kalimat yang diucapkan Muhammad. Sekejab ia terpesona pada pancaran kata-kata Muhammad, tapi lalu ia berkata dengan mantap:
“Muhammad, katakanlah apa yang ingin engkau katakan kepada kaummu. Demi Allah, aku tidak akan menyerahkan dirimu kepada siapapun juga. Apapun yang terjadi…!”
Rasul Allah tersenyum penuh kelegaan mendengar jawaban pamannya. Kendati sinar iman Islam belum lagi membasahi kalbu Abu Thalib, namun karena kecintaan pamannya kepada dirinya, Abu Thalib bersedia menanggung semua resiko yang bisa dibayangkan. Sebuah wujud kecintaan yang tulus, indah dan luar biasa! Bagaikan serpihan sinar bulan purnama!***
