Bab IV: Keluarga Yang Terpecah Pecah
- Tuesday, February 23, 2010, 8:36
- Sejarah Hidup Nabi
- Add a comment
Magnet Islam, mulai menyebar dengan sangat indahnya. Spora spiritual yang ditawarkannya segera disambut antusias bagi jiwa-jiwa yang kehausan. Konsep monotheis agama ini, sungguh menjadi pilar-pilar penggoda dalam membuka mata hati kaum Quraisy akan kebenaranan yang ditawarkannya.
Tapi lebih dari itu, sesungguhnya, yang pertamakali dilihat dan disimak oleh orang-orang, tentu saja adalah siapa yang mengucapkannya. Sosok Rasul menjadi dayatarik pertama bagi mereka. Siapa dan bagaimana Rasul, telah mereka ketahui dengan sangat baik. Bagimana keindahan prilakunya, akhlaknya yang terjaga dan kata-katanya yang senantiasa dalam kebenaran. Benar-benar pribadi yang mengesankan dan semua itu telah terbukti sejak dulu.
Artinya, karakterbaik itu terbentuk bukan sejak Muhammad bertahanuts lalu mendapat wahyu di gua Hira. Tidak. Sejak Rasul kecil hingga remaja, dewasa dan kemudian menikah, ia telah menampakkan pribadi yang kuat pendirian. Istiqomah. Konsistensinya dalam memegang kebenaran sungguh mengagumkan. Kendati berbagai cobaan, godaan dan tekanan bukannya tidak ada. Namun, Alhamdulillah, berkat pertolongan dan kehendak Allah jua, Rasul bisa tampil dengan sebaik-baik teladan.
Setelah embrio pertama terbentuk, embrio-embrio selanjutnya, dengan kecepatan yang cukup fantastis, mulai terbentuk pula. Satu persatu keluarganya mulai mengikuti kebenaran yang didakwahkannya.
Abbas dan Hamzah, kendati belum masuk Islam, namun para istrinya telah tidak sabar akan keragu-raguan suami mereka. Ummu Fadhl dan Salamah segera menjadi muslim. Begitu pula istri ja’far, Asma dan bibi Muhammad, Shafiyah binti Abdul Muthalib. Ummu Aiman, budak pengasuhnya segera dibebaskan dan langsung ikut bergabung.
Tak bisa dipungkiri lagi, kedatangan ajaran baru ini pelan-pelan mulai memecah belah keutuhan keluarga. Abu Thalib bersama putra sulungnya, Thalib dan Aqil, tetap memeluk agama nenek moyang. Walaupun mereka agak toleran dengan agama Islam. Bibi Muhammad yang lain, Arwah, karena mengikuti putranya Thulayb, bujang 15 tahun, ikut masuk Islam. Dan Arwah selalu memarahi saudaranya Abu Lahab karena sering mencela Islam. Saudara tiri Khadijah, Nawfal menjadi musush Rasul yang paling sengit, tetapi putranya Aswad, malah masuk Islam.
Suami Zainab (anak perempuan Rasul), Abu Al-‘Ash tidak ikut bergabung namun suami istri yang saling mencintai ini tetap rukun. Abu Bakar sendiri kesulitan mengislamkan putranya ‘Abdul Ka’bah. Namun anaknya yang masih balita, Aisyah, segera di Islamkan Abu Bakar dan istrinya, Ummu Rumman.
Selain keluarga yang telah terbentuk, konflik ini juga menyeret perkawinan yang baru saja akan dimulai. Atikah, sepupu Rasul, anaknya yang satu Abdullah menolak masuk Islam, namun anaknya yang lain, Zuhayr, agak lunak sikapnya. Hindun, anak perempuannya akan segera dinikahkan dengan Abu Salamah. Semua telah bergembira hati namun kemudian menjadi kecewa luar biasa begitu mendengar Abu Salamahmasuk Islam. Hindun, akhirnya juga ikut suaminya, menjadi muslimah.
Keluarga Suhayl yang sedang menanjak, akan menikahkan putrinya Sahlah dengan Hudzayfah, putra ‘Utbah dari Bani Syams. Pernikahan ini diharapkan dapat semakin memperkuat kedua klan. Tapi, apa hendak di kata. Sahlah dan Hudzayfah malah masuk Islam diiringi kakak mereka, Umm Kultsum dan suaminya, Abu Sabrah. Ini berarti Suhayl kehilangan dua putri dan menantu yang telah dipilihnya dengan teliti. Ia juga kehilangan tiga saudara, Salith, Sakran dan Hathib. Tak ada lagi yang bisa diperbuat Suhayl. Ia mengundurkan diri secara spiritual dan dengan sendu mundur dari linkaran sosial. Ia pasrah melihat keluarganya tercerai berai.
Kenyataan bahwa ajaran baru ini telah menimbulkan perpecahan di dalam keluarga sungguh amat menakutkan. Fenomena ini cukup menggoncangkan masyarakat kesukuan Arab yang tengah berupaya menggalang kembali solidaritasnya di atas ikatan darah dan afiliasi pakta-pakta.
Itulah sebabnya Rasul harus segera mengambil tindakan, mengatur lagi strategi. Agar konflik yang mulai akut ini tidak mematikan dakwahnya.
Kaum Quraisy pun kelihatan sudah mulai waspada terhadap agama baru ini. Kalau sebelumnya mereka menganggap enteng dan menyangka nasibnya akan sama dengan ajaran-ajaran lain. Kali ini mereka merasa mendapat ‘lawan berat’ yang cukup tangguh. Kini, belum lagi dalam hitungan tahunan, pengikut Muhammad telah cukup besar jumlahnya. Kemana pun orang-orang Quraisy itu pergi, mereka selalu saja bertemu dnegan pengikut-pengikut Muhammad. Rasul baru ini sedikit membuat mereka geram pada akhirnya. Mereka pun diam-diam mulai mengawasi dengan ketat pergerakan ajaran ini.
Dalam menjalankan ibaadat, kaum Muslim masih mengadakannya secara sembunyi-sembunyi. Rasul masih melarang mereka untuk ‘unjuk diri’. Saatnya belum lagi datang.
Tentu saja, embrio lapis kedua ini belum matang. Masih terlalu rapuh.
Sehingga seringkali mereka shalat di bukit-bukit terpencil, dalam kamar-kamar tertutup mereka, atau sesekali, bila sedang mujur, mereka bisa shalat di Kabah ketika saat sepi. Dan dalam kelompok kecil.
Rasulullah menginginkan kelompok kecil ini dapat dibangun atas pondasi ukhuwah/ persaudaraan yang kuat dan ta’awun/ solidaritas yagn tinggi yang akan membawa mereka secara bersama-sama ke posisi yang mantap.
Namun Rasul tetap menyuruh umatnya agar berhati-hati. Benturan harus dihindari sedapat mungkin. Rasul juga menekankan berkali-kali, saat ini kaum Muslimin belum boleh mencampuri urusan orang lain dengan mengkritik, melakukan konfrontasi atau menantang secara terang-terangan. Pokoknya, kaum Muslimin tidak boleh menampilkan ketidaksetujuan. Kecuali, tentu saja, dalam keadaan terpaksa.
Jadi, apapun yang telah dilakukan orang-orang Quraisy, tidak berkomentar adalah jalan paling bijaksana saat itu.
Ideologi yang membungkus sikap kaum Quraisy, sudah begitu mengakar dan mendominasi kehidupan mereka, menentang atau bahkan menantang bukanlah cara yang bijak.
Rasul masih harus memperbaiki dan membina aqidah umatnya yang masih baru ini. Karena sebagai umat yang masih baru, masih banyak fikrah atau pemikiran yang perlu disampaikan dan dipahami umatnya. Dan tentu saja untuk menyamakan pemikiran. Ibarat rumah, Rasul belum lagi membuat podasinya. Ia hanya baru meletakkan ‘batu pertama’. Dan batu pertama itu belum tertanam dengan benar dan kuat.
Namun pekerjaan harus dilakukan dengan tenang dan rahasia, agar sang macam tidak terbangun.
Aqidah menjadi semacam pondasi pertama yang harus ditanam Rasul. Karena hanya aqidah yang benarlah yang akan mampu memancarkan ibadah dan perilaku yang benar. Pada saat yang sama aqidahlah yang akan memberikan keteguhan jiwa diatas kebenaran dan pengorbanan di jalannya. Segala bentuk keraguan, ketidakpastian, nifaq dan penyimpangan dari jalan yang benar, terjadi karena lemahnya aqidah didalam hati setiap muslim.
Aqidah bukan masalah kepuasan intelektual yang dingin, juga bukan masalah dorongan sentimentil yang tidak berlandaskan intelektual. Tetapi aqidah adalah semacam visualisasi dari iman seorang muslim.
Keimanan yang tertanam dalam hati, akan terproyeksikan dengan sangat indahnya dalam setiap tindak dan ucap seorang muslim. Dan ibarat film, adegan yang tampillah yang akan dinilai dan dilihat orang lain. Yang akan membuat orang terpesona, kagum, jatuh cinta. Tetapi bisa juga malah jadi benci, tidak suka, kesal dan marah.
Itulah sebabnya Rasul berkepentingan untuk meluruskan sekaligus mewarnai aqidah dari kelompok awal yang baru saja terbentuk dengan susah payah ini.
Rasul ingin kelompok awal ini menjadi semacam jembatan pelangi penuh warna, penuh daya pikat sekaligus penuh misteri karena hanya orang-orang tertentu yang bisa menaikinya.
Aqidahlah yang bisa menjelaskan dengan baik dan benar sebuah iman. Kelak, strategi jitu ini benar-benar seperti revolver beramunisi atom. Daya ledak dan jangkaunya benar-benar luarbiasa.
Kelompok awal ini terbukti menjadi prajurit yang paling handal dan kuat dalam sejarah ‘kemiliteran’ yang pernah ada. Tak ada satu pun dari mereka yang berkhianat bahkan murtad dari ajaran Islam. Kendati terjadi tribulasi dan konflik fisik mulai terbuka.
Generasi di awal dakwah ini menjadi generasi Islam yang terbaik dari segi kualitas iman, prilaku, jihad dan pengorbanan. Mereka juga menjadi generasi pemimpin (jiil al-qiyadah) bagi masyarakat yang terbina.
Jumlah mereka sekitar 60 orang dan Rasul memutuskan untuk melakukan pembinaan di rumah salah seorang dari mereka. Agar pembinaan menjadi lebih terkonsentrasi, lebih khusuk, aman sehingga diharapkan usaha mentazkiyah (menyucikan diri) kaum muslimin dan mengajarkan mereka wahyu-wahyu Allah yang telah turun bisa lebih optimal.
Salah seorang dari mereka, Al Arqam bin Abi al Arqam al Makhzumiy memiliki rumah yang terletak di atas bukit shafa dan terpencil sehingga akan aman bila pembinaan dilakukan disana. Kegiatan ini berjalan hingga kira-kira tiga tahun lamanya.
Darul (rumah) Al Arqom menjadi tempat sekaligus pusat dakwah umat Islam pertama. Di sinilah Rasul bisa berkonsentrasi menjalankan pembinaan dengan tenang dan aman. Sebuah proses implantasi telah dimulai. Untuk kemudian tahapan pembuahan berjalan satu persatu dengan alamiah. Sebelum embrio ini bisa ‘lahir’ dengan selamat dan diberkahi Allah Yang Memiliki Kehidupan ini sendiri.
