“Itulah anak muda dari klan Hasyim yang membawa kabar dari langit” ujar orang-orang Quraisy sambil menunjuk pada Rasul yang melewati mereka yang tengah duduk-duduk di sekitar Kabah.
Pada mulanya reaksi mereka teramat biasa, seperti mereka biasa menanggapi para pendeta atau rahib yang berteriak-teriak di pasar malam Ukaz atau di sebuah bukit. Menyebarkan ajaran mereka. Mekah, sebagai pusat transit tentu tak bisa menutup diri dari ide-ide baru kendati gagasan itu seringkali menyesakkan dada mereka. Apalagi ditambah sudah tidak adanya lagi pemimpin di Mekah sejak Abdul Muthalib turun tahta.
Mekah, benar-benar menjadi sebuah kota terbuka.
Itupula sebabnya mereka tak menghiraukan adanya agama baru yang dibawa oleh seorang anak muda yang bahkan mengaku-aku sebagai Nabi. Sebuah gagasan yang semula terdengar teramat biasa bagi telinga mereka. Karena mereka hanya mendengar sepintas saja tentang agama baru ini. Dan sebagaimana sebuah informasi yang diterima sepotong sepotong, maka bias yang timbul seringkali menimbulkan luka yang dalam dan serius. Yang baru disadari lama setelah itu.
Betul Muhammad membawa ajaran baru, hanya saja konsep Satu Tuhan sesungguhnya cukup mengejutkan mereka. Mereka cukup punya kekhawatiran bahwa hal ini bisa merembet pada tuhan-tuhan kesayangan mereka, para berhala yang mereka buat sendiri. Namun karena Muhammad tak pernah mencela perbuatan mereka dalam kepercayaan ini, mereka masih bisa berdiam diri. Membiarkan Rasul baru itu asyik dengan kegiatan dakwahnya.
Mereka percaya ajaran baru itu akan bernasib sama dengan ajaran para pendeta, rahib atau orang-orang ahli seperti Quss, Umayya atau Waraqa. Orang-orang pasti akan kembali pada Latta, ‘Uzza atau Hubal.
Rasul tentu saja belum secara terang-terangan menghujat berhala-berhala itu. Ia berpikir sikap seperti itu seperti membangunkan seekor beruang kutub, setelah enam bulan tertidur dengan perut lapar. Saat ini Rasul menekankan kepda para pengikutnya untuk tetap menjaga dan memperkuat barisan.
Sikap ini benar-benar dimanfaatkan oleh Rasul untuk cepat-cepat menyebarkan ajaran Islam. Tanpa kenal istirahat, Rasul dan barisan para pelopor ini seperti bergerak dengan kecepatan seekor cita.
Banyak kaum kerabat Rasul yang kemudian secara cepat atau butuh sedikit pemahaman, bersedia menerima ajaran ini. Seperti anak Abu Thalib yang diangkat anak oleh Abbas, Ja’far, teman dekat dus sepupu Rasul, Abdullah bin Jahsy dan saudara perempuannya Zainab, serta saudara lelakinya Ubaidillah. Uubaidillah adalah seorang hanif yang telah lama mencari bentuk alternatif agama lain. Kendati banyak kerabatnya akhirnya memeluk Islam, kekecewaan terbesar Rasul adalah ketika ia tidak berhasil menarik paman-pamannya, kedalam barisannya. Paman sebaya yang disayanginya, Abbas dan Hamzah (saat itu) tidak tertarik dengan tawarannya. Begitu pula Abu Thalib yang telah menyatakan ketidakmungkinannya untuk meninggalkan agama nenek moyangnya. Usianya yang sudah lanjut, kemungkinan besar menjadi alasan utamanya kenapa ia tidak mau capek-capek mengubah keyakinannya. Kendati ia percaya sepenuhnya pada Muhammad, mendukungnya dan tetap menghormatinya secara pribadi. Itu sebabnya ia tidak keberatan Ali dan Ja’far, anaknya, ikut agama ini. Sebagai bukti dukungannya, Abu Thalib menyatakan secara terbuka bahwa ia bertindak sebagai pelindung Rasul. Dukungan Abu Thalib yang menjabat sebagai ketua klan Hasyim, menjadi penting bagi Rasul. Karena Rasul paham sekali, pernyataan resmi perlindungan ini, untuk sementara, membuat posisinya cukup aman dari gangguan kaum Quraisy. Tanpa adanya perlindungan, seorang anggota suku klan akan bebas untuk diperlakukan apa saja oleh anggota suku lainnya. Sekalipun itu dibunuh. Dan tak seorang pun akan berani menolong. Karena ia telah di’buang’. Ia menjadi khali. Sebatang kara di padang pasir yang ganas tanpa ampun. Sementara seringai hyne gurun akan setia menunggu hingga saat tidur tiba.
Kendati para paman yang disayanginya tidak bersedia menerima ajakannya, namun Rasul yang penyabar itu merasa yakin Allah akan menolongnya. Suatu saat, dengan ijin Allah, Rasul bisa membuang batu-batu yang menyumbat gairah spiritual mereka. Melepaskan lapisan hitam yang menghalangi pupil mereka untuk melihat cahaya yang Haq.

