Bab IV: Jamuan Makan Malam
- Tuesday, February 23, 2010, 9:20
- Sejarah Hidup Nabi
- Add a comment
Insiden kecil di bukit terpencil itu seakan pintu waduk yang membuka sedikit. Atau seperti palu yang membuat lubang kecil pada tembok. Namun hal itu menjadi isyarat penting bahwa setelah itu akan ada banyak lagi lubang-lubang yang menganga. Dan bukan Cuma palu yang bermain. Barangkali sebuah bandul besi tengah dipersiapkan disini. Untuk menghancurkan pertahanan kaum muslim.
Insiden ini sudah pasti merisaukan Rasul. Ia berdoa siang malam kepada Allah SWT agar memberinya jalan keluar dari situasi psikologis yang menjebak dan relita fisik yang cukup menakutkan.
Rasul adalah seorang yang amat lembut hatinya, penyayang dan suka merenung. Situasi yang mulai mengeras ini mengharuskan ia berbuat lebih dari sekedar bersembunyi.
Karena sebagai pemimpin, Rasul tidak ingin umatnya menjadi martir. Atau pion-pion yang harus mati agar sang Ratu tetap hidup. Kendati umatnya sangat ikhlas bila pengorbanan itu harus demikian dasyatnya.
Disekitar saat itulah, Allah memerintahkan Rasul untuk mendeklarasikan dirinya secara terbuka, kepada seluruh anggota klannya, dan mengajak mereka masuk Islam.
Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan
segala apa yang diperintahkan (kepadamu)
dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik
Al Quran surat al Hijr (15): 94
Wahyu berikutnya, benar-benar menjawab lebih detil kegelisahan Rasul. Pada saat itu waktu telah berlalu tiga tahun sejak Rasul menerima wahyu pertama di gua Hira.
“Berilah peringatan kepada kaum kerabatmu yang terdekat
dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu,
yaitu orang-orang yang beriman.
Jika mereka mendurhakaimu, maka katakanlah:
‘Sesungguhnya aku tidak bertanggungjawab atas apa yang kamu kerjakan’
bertaqwalah kepada Allah Yang Maha Perkasa
lagi maha Penyayang
yang melihat kamu ketika kamu shalat
melihat pula gerak badanmu di antara orang yang sujud
sesungguhnya Dia adalah yang Maha Mendengar
lagi Maha Mengetahui”
Al Quran surat Asy Syu’ara (26), 214-220
Saat yang cukup krusial itu akhirnya tiba juga. Rasul tahu, bila Allah telah memerintah ia untuk segera menanggalkan tirai, itu artinya Allah telah menilai Rasul telah cukup siap untuk menjalankan perintahNya. Berdakwah secara terang-terangan. Tanpa harus malu-malu lagi, tanpa sembunyi-sembunyi dan tanpa saputangan di wajah.
Tetapi Allah juga mengingatkan untuk berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Itu artinya kendati sudah bisa mulai berdakwah secara terang-terangan, terhadap gangguan orang musrik, Rasul diperintahkan untuk menghindarinya. Tidak perlu menanggapi ajakan yang mereka lontarkan. Konfrontasi secara fisik masih harus dihindari. Artinya, jangan membuang-buang tenaga untuk hal yang tak perlu. Inilah periode dimana ketahanan mental dan kesabaran orang-orang Muslim tengah diuji. Periode menahan tangan dan hanya melakukan tabligh.
Kelompok awal atau generasi pertama ini dinilai Allah sudah cukup layak untuk mentas. Segala persiapan telah dilakukan. Rasul tinggal menjalankan apa yang sudah ditetapkan.
Namun sebagai Nabi baru dan tidak mempunyai sedikitpun pengetahuan tentang para Nabi sebelumnya, Rasul tidak bisa belajar sesuatu dari pengalaman mereka, para nabi terdahulu. Tidak ada satupun cerita yang sampai kepadanya tentang perjuangan Nabi-nabi yang lalu untuk diambil ibrahnya. Semua tarbiyah dan bimbingan, semata-mata berasal dari wahyu Allah.
Pun pengetahuan tentang masa yang terdahulu. Namun gambaran perjuangan Nabi terdahulu itu amat penting untuk diketahui Rasul. Agar ia bisa mempersiapkan dirinya dan umatnya akan permasalahan yang sesungguhnya akan terjadi.
Mengingat pentingnya hal ini, Allah menurunkan wahyunya:
“Dan ( ingatlah) ketika Tuhan-mu menyeru Musa (dengan firman-Nya): “Datangilah kaum yang dzalim itu. (Yaitu) kaum Fir’aun.
Mengapa mereka tidak bertakwa ?”.
Berkata Musa: “ Ya Tuhanku, sesungguhnya aku takut mereka akan membunuh aku.
Dan (karenanya) sempitlah dadaku
dan tidak lancarlah lidahku,
maka utuslah (Jibril) kepada Harun.
Dan aku berdosa terhadap mereka,
maka aku takut mereka akan membunuhku”.
Berfirman Allah: “Jangan takut (mereka tidak akan dapat membunuhmu),
maka pergilah kamu berdua dengan membawa ayat-ayat Kami (mukjizat-mukjizat);
sesungguhnya kami bersamamu, mendengarkan apa yang mereka katakan”.
Al Quran surat Asy Syu’araa (15): 10-17
Resiko terbesar dari sebuah perjuangan adalah pembunuhan. Dengan berpegang pada janji Allah, Rasul tak perlu takut dengan ancaman itu.
Namun Rasul merasa perintah itu terlalu berat untuknya. Ia, yang tak pernah memimpikan menjadi Khalifah, adalah sesungguhnya pribadi yang sederhana dan memiliki hati yang teramat halus. Tutur katanya santun dengan intonasi yang rendah namun jelas maksud dan tujuannya.
Kini, ia harus menyampaikan sesuatu yang (sudah pasti) akan membangkitkan amarah dan memuntahkan caci maki dari kaum yang terkenal kasar dan pemberang ini. Sanggupkah Rasul?
Keraguan mulanya menyelimuti hatinya. Langkahnya terasa berat. Walaupun yakin sepenuhnya akan perlindungan Allah, namun kekhawatiran utamanya adalah keselamatan keluarga, terutama umatnya. Sebuah ketakutan yang manusiawi. Keresahan ini membuatnya semakin memperpanjang waktu-waktu shalatnya. Siang malam Rasul memohon pertolongan berupa kekuatan hati dan iman. Karena hanya Allahlah sebaik-baik perlindungan dan tarbiyahNya.
Ketidak hadiran Rasul untuk shalat berjamaah mengundang tanya dan kecemasan umatnya. Segeralah mereka mengunjungi beliau. Melihat kedatangan mereka, Rasul seperti merasa menjadi sebatang padi yang diberi pupuk.
Kehadiran mereka memberi energi lain dari yang lain. Kecemasan yang membayang di mata mereka serasa menyuntikkan harapan baru dalam kalbu Rasul.
Ya, Allah telah menguatkan hati dan iman Rasul lewat kunjungan kekhawatiran umatnya.
Karena bila Rasul sendiri ragu akan kemampuan diri dalam manjalankan perintah Allah, bagaimana mungkin umatnya yang masih ‘muda’ ini bisa menjadi kuat? Bila Rasul lemah, siapa nanti yang akan menjadi pelindung mereka? Memang hanya Allahlah yang memiliki kekuasaan. Namun Rasul sedang dalam menjalankan misinya untuk menjad pembimbing mereka menuju sinar terang.
Bila seorang imam merasa takut, bagaimana pula umatnya?
Tetapi Rasul adalah tipe pemimpin yang demokratis. Kendati keputusan ada ditangannya, ia senantiasa meminta pertimbangan umatnya dulu. Apalagi ini juga menyangkut kesediaan dan kesanggupan mereka mengingat beratnya resiko yang akan mereka hadapi. Untuk itulah Rasul meminta izin dan kesanggupan mereka sebelum strategi ini dijalankan.
Betapa rendah hatinya Rasul. Kendati ia adalah seorang pemimpin, dia tidak bertindak otoriter. Kepemimpinannya dijalankan atas prinsip hak dan kewajiban yang sama dari semua elemen organisasi. Baik itu pemimpin maupun yang dipimpin. Keputusan diambil lewat jalan musyawarah dan pertimbangan dari semua sisi. Tentu saja, sepanjang ini tidak berkaitan dengan masalah Tauhid.
Sesungguhnya, inilah salah satu inti ajaran Islam. Bahwa semua manusia sama di mata Allah. Yang membedakan Cuma amal ibadahnya saja.
Para sahabat, setelah mendengar penjelasan Rasul menganggap bahwa wahyu Allah adalah sebuah perintah yang harus mereka laksanakan. Dan seperti sang Imam, mereka berserah diri pada perlindungan Allah semata, atas apapun resiko yang akan mereka hadapi.
Maka, lapanglah hati Rasul mendengar kesiapan para sahabatnya, umat yang amat dicintainya itu.
Kini strategi baru harus diterapkan. Mengingat ajaran ini banyak menimbulkan benturan dan telah mengakibatkan luka yang cukup dalam berupa terpecah belahnya sebuah keutuhan keluarga. Rasul perlu memikirkan cara-cara agar perintah ini bisa dijalankannya dengan tepat, cepat dan jitu. Beliau butuh suasana dimana ia bisa mengkomunikasikan ajaran ini dengan tenang sehingga para kerabatnya dapat berpikir dengan jernih dan terbuka. Sebelumnya Rasul harus mengkondisikan lebih dulu para kerabat yang ia tahu memilki karakter keras.
Dan sesuai dengan ibrah perjuangan Nabi Musa, Rasul terlebih dahulu harus melapangkan dadanya dan mampu menuturkan ajaran ini dalam bahasa yang jernih, lugas, terstruktur dan jelas.
Untuk menjalankan misi ini, Rasul mengundang kaum kerabat terdekatnya dari Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Ia meminta bantuan Ali mengatur semua itu. Mulai dari mempersiapkan makanannya, hingga menyebarkan undangan kepada mereka. Sekitar 45 kerabatnya, akhirnya datang pada jamuan makan sederhana di rumah Rasul.
Usai acara jamuan, Rasulullah bersiap untuk berbicara. Namun, Abu Lahab, paman yang selalu memperlihatakan secara terang-terangan kebenciannya pada Rasul, langsung memotongnya.
“Mereka yang hadir disini adalah paman-pamanmu sendiri dan sepupu-sepupumu. Bicaralah, dan segera tinggalkan agama baru itu. Jika engkau bersikeras, seluruh bangsa Arab akan memusuhimu. Sedang kaummu, bangsa Quraisy, tidak akan mampu melawannya dan melindungimu. Sungguh, aku tak pernah melihat ada orang yang membawa sesuatu yang lebih jelek dari apa yang telah engkau ini.”
Mendengar kata-kata yang emosional seperti itu, Rasulullah saw. hanya diam dan sama sekali tidak berbicara dalam pertemuan itu. Rasulullah saw. mengenal sifat pamanya yang berbadan tinggi besar dan cepat naik darah itu. Tidak ada gunanya berbicara pada orang yang telah kehilangan akal dan logikanya. Karena kata-kata kita tidak akan mampu diresponnya dengan baik. Dan Rasul tahu, bila ia memaksakan dakwahnya tentu akan terjadi kekacauan. Maka Rasul memutuskan untuk menunda dakwahnya hingga esok.
Keesokan harinya, jamuan diadakan kembali dan kaum kerabatnya datang lagi.
Kuatir Abu Lahab, kali ini Rasulullah langsung berkata:
“Wahai putra-putra Abdul Mutahlib, aku tahu tak seorang Arabpun datang pada rakyatnya dengan pesan yang lebih agung daripadaku.
Kubawakan pesan terbaikNya. Tuhan memerintahkanku untuk mengajakmu menyembahNya. Siapa diantara kamu ini yang mau mendukungku dalam perjuaangn ini. Ia akan menjadi saudaraku, menjadi penerima wasiatku dan menjadi penerusku sepeninggalku”
Kesunyian yang kaku segera menyergap ruangan itu. Bahkan Abu Thalib dan paman tercintanya, Abbas dan Hamzah, tidak berkata sepatahpun.
Akhirnya Ali tak tahan dengan kesunyian itu dan ia ingin segera mengakhiri suasana untuk menyelamatkan kewibawaan paman yang dicintainya itu. Meskipun baru beranjak dewasa, Ali berbicara didepan semua dengan agak kikuk.
“Aku, wahai Rasulullah. Akulah yang akan menjadi pembantumu”
Rasulullah tersenyum mendengar jawaban lugas Ali. Dengan bijak beliau menjawab:
“Terimakasih, Ali. Duduklah dulu”
Kemudian Rasul mengulangi lagi kata-katanya. Ia masih berharap seorang dari kerabatnya yang ia undang ini, mau menerima ajaknnya.
“Tuhan memerintahkanku untuk mengajakmu bersembah sujud hanya kepadaNya. Siapa diantara kalian yang mau mendukungku dalam perjuaangn ini. Ia akan menjadi saudaraku, menjadi penerima wasiatku dan menjadi penerusku sepeninggalku”
Kali ini pun tak terjadi apa-apa. Tak seorang pun mengangkat tangannya. Dan Ali, kembali tak tahan dengan ejekan terselubung atas diri pamannya itu. Tangannya mengacung ke atas.
“Aku ya Rasulullah”
Rasul adalah pemimpin yang tak pernah menarik kembali janji yang pernah diucapkannya. Kendati tawaran cukup berat ini hanya disanggupi oleh seorang pemuda tanggung, Rasul tetap menghargai pemikiran dan ikrar yang diucapkan Ali. Lagi pula, Rasul tahu bagaimana karakter dan akhlak Ali.
Dengan lembut dan tanpa ragu, Muhammad meraih pundak Ali.
“Baiklah Ali. Mulai sekarang, engkaulah saudaraku, penerima wasiatku dan penerusku sepeninggalku. Dengarkan dia dan patuhilah!”
Mendengar kata-kata Rasul, beberapa orang berteriak dan mengejek Rasul. Rasul tahu keputusannya menjadi bahan cemooh kerabatnya sendiri. Mengangkat seorang anak kecil dan menyuruh ayah-ayah mereka mentaatinya, sungguh sebuah lelucon yang amat menggelikan.
Tapi, kepemimpinan bukan pewarisan tahta dalam sebuah kerajaan. Seperti juga aturan dalam suku, ia ditentukan oleh kualitas dan ketangguhan. Sehingga, mengapa kejadian ini mesti disikapi sinis? Barangkali karena Ali tak punya ‘karier militer, politik dan ekonomi’ dalam struktur masyarakat Arab. Ali betul-betul masih terlalu rendah.
Namun Rasul adalah pemimpin yang konsisten dengan ucapan dan janjinya. Walaupun Ali adalah seorang yang masih muda dan orang Arab sangat pantang dipimpin oleh orang yang lebih ‘rendah’ darinya. Namun Muhammad ingin menunjukkan sekali lagi, inilah agama yang paling humanis dari yang pernah ada di muka bumi.
Seseorang tidak dipandang dari segi kedudukan, harta, ilmu maupun usia. Semua sama dihadapan Allah. Hanya amal ibadah saja yang bisa membedakan. Dan Rasul, harus menerapkan ajaran itu, walau apapun resikonya. Kendati dia harus menerima cemooh, hinaan bahkan menjadi bahan tertawaan. Itu hanya reaksi dari orang yang, sungguh, belum memahami ajaran Islam yang sesungguhnya.
