Bab IV: Hamzah, Oh Hamzah!

Perseteruan kaum Qurasy dengan Rasulullah saw. dan para sahabat dan pengikutnya semakin keras dan gencar. Namun hal itu tidak dapat merintangi tersebarnya dakwah Islam dikalangan penduduk Mekkah. Dakwah yang menyatakan kebebasan manusia terhadap berbagai macam bentuk perbudakkan, baik itu budak hawa nafsu, berhala, harta maupun perbudakan terhadap sesama manusia. Hal inilah yang ditolak oleh mereka yang telah terbelenggu oleh kenikmatan dunia dan terbiasa dengan kemaksiatan. Pada dasarnya mereka membenarkan apa yang dikatakan oleh Nabi Muhammad saw. Namun hawa nafsulah yang menghalangi mereka untuk memperoleh hidayah Allah.
Tantangan paling keras datang dari kelompok oligarki yang menguasai kehidupan kota itu. Mereka tidak hanya takut akan konsep agama politheisme mereka, tetapi juga khawatir kalau struktur masyarakat dan kepentingan dagang mereka akan tergoyahkan langsung oleh ajaran Rasul. Keadilan sosial yang gencar disuarakan Rasul sungguh membuat mereka risau.

Al Quran sudah secara terang-terangan mencela sikap mereka yang suka menimbun harta tanpa pernah perduli dengan orang-orang miskin.
Sesungguhnya sikap ini telah lama diterapkan Nabi Muhammad bahkan sebelum ia diangkat menjadi Rasul.
Orang-orang sudah menyaksikan sendiri beliau hidup berkecukupan, namun tak pernah sekalipun tergiur oleh harta bahkan beliau menginfakkannya untuk golongan lemah. Namun dulu Rasul tak pernah ikut campur atau mencela kaumnya yang suka bersikap sewenang-wenang itu. Sehingga ketika hal ini menjadi terang, tak ada jalan lain. Kebenaran benar-benar harus ditegakkan. Tapi, tetap konfrontasi fisik harus dihindarkan.

Berpacu Memperbanyak harta telah melalaikanmu
Hingga saat kamu masuk ke dalam kubur
Janganlah demikian, kalian kelak akan mengetahui akibatnya
Janganlah demikian, kalian kelak akan tahu
Jangan! Niscaya kelak kalian akan melihat sendiri neraka jahanam
Sungguh, kalian kelak akan melihatnya dengan ainul yaqin
Pada hari kiamat itu, kalian akan dituntut
Pertanggungjawaban atas kenikmatan hidup di dunia

Al Quran surat At-Takaatsur (1o2): 1-8

Kemarahan Abu Lahab dan sikap permusuhan kalangan Quraisy yang lain sungguh tidak dapat menghalangi kegiatan dakwah yang dilancarkan Rasul dan para sahabatnya. Mereka tetap maju terus pantang mundur. Kendati caci maki telah berhamburan bak badai meteor di antariksa sana.
Namun mereka yang memang merindukan kebenaran yang hakiki, bagaikan mendapat hujan embun yang membasahi kerongkongan mereka. Kaum lemah, para budak belian, para hanif, mereka yang memiliki hati-hati yang lembut, semua berdatangan baik secara sendiri-sendiri maupun berkelompok. Dihadapan Rasul yang diam-diam telah mereka cintai jauh sebelum bi’tsah ini, mereka mengucapkan dua kalimat syahadat.
Rasul Allah menerima keimanan mereka dengan rasa syukur tak henti-henti. Dakwah selanjutnya jadi terasa lebih indah manakala yang menghadirinya semakin lama, semakin banyak.
Tapi Abu Jahal pun tak pernah istirahat dalam usahanya menistakan Rasul, menerornya dengan kata-kata kasar. Seperti suatu hari…
Saat Rasul berada di suatu jalan di kota Mekah. Tiba-tiba saja ia bersua dengan Abu Jahal yang kegirangan melihat Rasul. Baginya, mencaci Rasul sudah seperti olahraga saja. Karena dimanapun bertemu Rasul, ia selalu berusaha memulai konflik fisik. Ini menjadi semacam ritual pribadi yang membawa kenikmatan tersendiri, sebuah kesenangan yang membanggakan.
“Hai Muhammad, sungguh kau mempermalukan martabat kita semua dengan ajaran omongkosongmu. Ketahuilah, kami tak pernah takut dengan sihirmu itu…”

Mulailah Abu Jahal mencaci Rasul. Namun, Rasul tidak menanggapi sedikit pun. Raut wajahnya tetap tenang. Sorot matanya tak memancarkan gejolak emosi sedikit pun. Dan, sebuah senyum persahabatan tetap tersinggung di bibirnya yang indah.
Diam-diam ada yang menyaksikan hal itu. Dan disaksikannya manakala penghinaan Abu Lahab telah keterlaluan, Rasul masih tetap saja bisa tenang. Hingga akhirnya Abu Lahab kehabisan kata-kata dan berlalulah Rasul dengan ketenangan yang sama seperti ketika ia datang tadi. Sungguh sebuah pengontrolan diri yang sangat baik. Abu Lahab benar-benar dianggap angin lalu oleh Rasul. Pembalasan yang cukup cerdik dan jitu.
“Sungguh luar biasa kesabaran Muhammad”, ujarnya. Kejadian itu dilaporkannya kepada Hamzah bin Abdul Muthalib. Hamzah, adalah paman sekaligus saudara sepermainan yang dicintai Rasul. Karena Hamzah sesungguhnya berhati baik, dengan akhlak yagn terpuji dan sifatnya yang selalu riang gembira. Namun mendengar Abu Jahal, yang notabene adalah kakaknya sendiri namun lain ibu, telah mengganggu saudara yang dicintainya, marahlah Hamzah. Ia tidak terima bila Muhammad dihinakan seperti itu. Sikap Hamzah kepada Muhammad, benar-benar seperti sikap seorang kakak terhadap adiknya. Sejak kecil dulu ketika masih sama-sama di susui di pedalaman Badui, Hamzah selalu melindungi Muhammad. Ia adalah ‘kakak’ yagn gagah berani sekaligus periang. Dan Muhammad adalah anak yang lembut dan amat baik hatinya.

Dengan busur dan panah ditangan, karena ia memang habis pulang berburu, Hamzah mencari-cari Abu Jahal. Ketika sudah ditemukannya, tanpa kata pembuka, Hamzah memukul Abu Jahal. Walau pun sang paman usianya jauh lebih tua dengan postur badan besar, namun Hamzah tak takut sedikit pun.
Abu Jahal terjerembab ke tanah. Ia kaget bukan main. Teman-temannya juga kaget. Mengapa Hamzah marah luarbiasa padanya? Bukankah biasanya ia selalu riang?
“Kuperingatkan pada kalian semua…!” sembur Hamzah dengan gagah berani.
“Jangan sekali-sekali kalian ganggu Muhammad, selama masih ada aku!”
Inilah pembelaan sekaligus perlindungan terang-terangan yang pertama yang diterima Rasul. Sebuah sikap yang mencerminkan kekuatan sekaligus kelembutan hati yang cerdas. Mencerminkan kebesaran hati Hamzah. Hamzah yang pemberani telah menggunakan keberaniannya untuk membela Rasul tanpa takut. Ia juga tidak khawatir akan balasan Abu Jahal, karena kedudukan mereka sama.
“Kau telah membela Muhammad, berarti engkau telah masuk agamanya….” teriak teman-teman Abu Jahal.
“Siapa yang berani melarangku” bentak Hamzah. “Ayo, kalau kalian berani. Lawan aku!”
Hamzah memang sendirian, tapi kekuatan dan keberaniannya melebihi sepuluh ekor singa. Tak ada yang berani melawan Hamzah. Semua ketakutan. Pun Abu Jahal. Dan ramai-ramai itu pun berakhirlah sudah. Mereka menyingkir perlahan-lahan.
“Saksikan oleh kalian, sekarang aku menjadi pengikut Muhammad!”

Abu Lahab dan teman-temannya pergi membawa hati yang geram dan penuh dendam. Pengikut Muhammad kini bertambah satu lagi….

About the Author

admin has written 879 stories on this site.

-

Copyright © 2010 Muhammad SAW Teladanku. All rights reserved.
Powered by WordPress.org, Custom Theme.