Cukup mengejutkan ajaran Rasul bisa menarik hati banyak orang Quraisy. Lebih jauh lagi ajaran ini, dengan sangat ‘kejam’nya memisahkan bahkan menghancurkan sebuah ikatan inti, seperti keluarga. Banyak keluarga yang tercerai berai karena banyaknya hati yang mempertahankan ajaran Islam dengan keteguhan yang mengagumkan.
Dasyat memang akibat yang terjadi bila hidayah telah turun dan mengendap dalam lubuk hati seorang manusia.
Bila percikan spiritual telah menjelma menjadi galaksi-galaksi kecil yang mengililingi mata hati. Pertemuan dengan Tuhan menjadi amat manis laksana menyaksikan tajuk hutan hujan yang langitnya dipenuhi kupu-kupu morfo dan burung kolibri. Siapa kiranya yang sanggup menolak?
Taruhan semua itu memang tidaklah ringan. Suami terpisah dari istri, istri-istri yang rela menjanda, pemuda-pemudi yang dengan hati teguh kendati luka parah, menerima amarah ayah bunda mereka yang tak sudi menerima kemusliman anaknya.
Banyak hati telah luka. Banyak airmata yang tumpah. Dan banyak ikatan telah koyak. Namun, itulah konsekuensi sebuah perjuangan. Dan bagi kaum Quraisy sendiri, ada jerit kemarahan dari dalam hati ketika harus menyadari bahwa kelak dari dalam rumah mereka sendiri akan muncul kuda troya.
Sesungguhnya, inilah cobaan paling awal sekaligus semacam uji coba bagi pergerakan dakwah Rasul. Jika rintangan pertama ini bisa berhasil, Insya Allah, tahap ujian berikutnya pasti bisa dilalui.
Dan, cobaan kedua itu pun datang berupa darah yang tertumpah membasahi bumi Allah.
Suatu ketika, Rasul dan mereka yang telah masuk Islam akan melaksanakan shalat secara berjamaah di sebuah tempat terpencil. Sa’ad bin Abi Waqqas, paman Rasul dari pihak ibu keluar dari rumahnya dengan sangat hati-hati, untuk ikut shalat berjamaah bersama Rasul. Ia tidak ingin kepergiannya diketahui kaum Quraisy. Merasa sudah aman, Sa’ad pun pergi mengendap-endap. Sa’ad, adalah salah seorang Muslim yang mendapat hidayah Allah lewat sebuah mimpi mengejutkan dan penuh arti. Ia bermimpi melihat bulan menyembul di cakrawala. Cahanyanya menyingkap kegelapan malam yang amat pekat. Lalu tampaklah olehnya Abu Bakar, Zaid bin Haritstsah serta Ali bin Abu Thalib melambaikan tangan padanya. Mimpi itu membuatnya terangun seketika. Dan hatinya diliputi misteri yang mengganggu. Keesokan paginya Abu Bakar datang lalu menyampaikan kabar tentang ajaran ini.
Hidayah Allah pada periode awal ini bisa jadi berupa mimpi seperti yang dialami Sa’ad, dan juga Khalid bin Sa’id dari klan Abdi Syams. Usman bin affan pun mendapat mimpi berupa seruan dari kegelapan: “Bangunlah para penidur! Karena Ahmad telah tiba di Mekah!”
Kepergian Sa’ad yang mengendap-endap, rupanya diketahui Abu Jahal, yang juga paman Nabi namun dari pihak ayah. Kesempatan ini tak disia-siakan Abu Jahal dan teman-temannya yang sangat ingin mengetahui tempat rahasia Rasul melaksanakan ibadahnya.
Usai shalat, Sa’ad yang berkarakter tegas ini menjauh sejenak untuk beristirahat. Ditempat itulah ia memergoki Abu Jahal dan teman-temannya. Tapi belum sempat Sa’ad menegur, Abu jahal telah bertanya dengan nada sedikit membentak. Status ikatan klan dan darah yang cukup berdekatan membuat Abu Jahal sedikit segan untuk mengasari Sa’ad.
“Apa yang sedang kalian kerjakan?”
“Kami sedang shalat..” jawab Sa’ad dengan agak malas. Namun ia mulai waspada karena instingnya mengatakan sesuatu yang tidak beres telah terjadi di sini.
Orang-orang Quraisy yang memang telah punya niat jelek itu menanggapi jawaban Sa’ad dengan ejekan dan hinaan. Mereka mentertawakan keanehan gerakan ritual shalat.
Sa’ad, sangat tidak suka mendengar komentar itu. Ejekan itu serasa melukai harga dirinya. Insting Baduinya timbul seketika. Diambilnya sepotong kayu yang tergeletak di sana. Dan dihantamkannya pada salah seorang dari mereka.
Sebuah konfrontasi fisik secara terbukapun dimulailah. Pukulan demi pukulan kini terimplementasi dengan bebas dan vulgar. Orang-orang Quraisy, tentu saja membalas. Dan Sa’ad, seorang diri harus menerima kekerasan fisik itu.
Usai perkelahian tak imbang, kaum Quraisy meninggalkan Sa’ad yang lukanya menghancurkan wajah sekaligus menyulut amarah. Ketika Sa’ad kembali,
Rasul dan kaum muslim menyambutnya dengan pandangan yang patah. Kesunyian yang sungguh tak mengenakkan itu menyelimuti mereka. Ada kemarahan yang siap untuk diledakkan. Namun tertahan karena sang Imam keburu menuangkan air es ke dalam hati mereka.
Dengan suara tenang dan kata-kata yang trstruktur Rasul meminta umat Islam mau menahan diri, tidak terpancing jenis konfrontasi yang dilancarkan lawan. Rasul meminta mereka untuk bersabar.
Sebuah sikap yang sangat dalam dan luas makna serta akibatnya. Sabar menuntut kita untuk tetap berpikir jernih. Semarah apapun, setersinggung apapun atau bahkan sehebat apapun derita yang kita alami, jangan sampai akal pikir kita tak mampu menjalani fungsinya dengan baik. Sabar memotong amarah agar kita masih mampu berpikir. Karena bila akal kita tak bisa berfikir baik dan jernih, maka sudah bisa ditebak. Kita akan hancur dan binasa sia-sia.
Rasul tak ingin umatnya harus menderita hanya karena tak mampu bersabar. Tak bisa ‘mengelola’ emosi. Sesungguhnya, sabar melejitkan kecerdasan emosi manusia. Dan itulah yang diajarkan Rasul pertama kali kepada umatnya.
Ketika darah pertama telah mengalir. Ketika pintu kemarahan sudah membuka. Dan ketika dendam mulai tersulut.
Kepada Sa’ad, Rasul tidak memarahinya. Karena tak ada gunanya. Toh Sa’ad sendiri menyesali kemarahan yang tumpah ini. Ia merasa telah membawa teman-teman dan Rasul yang dicintainya, kedalam situasi yang membahayakan. Situasi yang mereka belum siap menanggungnya.
“Sa’ad saudaraku, darahmu fi sabilillah…” ucap Rasul dengan sangat bijak. Sekaligus menenangkan gemuruh penyesalan dalam dada Sa’ad.

