Bab IV: Dakwah Rahasia
- Tuesday, February 23, 2010, 8:29
- Sejarah Hidup Nabi
- Add a comment
Embrio pertama sebuah masyarakat Muslim, telah dibentuk Rasul. Itulah keluarganya sendiri. Sebuah keluarga yang semula berpencar-pencar dalam hal kepercayaan kini disatukan Allah dalam satu ikatan kukuh. Mereka semua beriman kepada Allah dan Muhammad sebagai RasulNya. Betapa indahnya nuansa yang kini menyelimuti keluarga itu. Sebuah atsmosfer yang sudah lama sesungguhnya mereka rindukan.
Kini mereka punya satu Tuhan yang sama yang mereka percayai, mereka bisa beribadah secara bersama-sama pula. Kendati saat itu masih harus sembunyi-sembunyi. Lebih dari itu semua, mereka berada pada barisan yang sama! Betapa bahagianya!
Sejak itu Rasul bersama Khadijah dan anak-anak mereka, melakukan ibadah dengan tekun dan khusuk.
Namun, embrio ini masih terlalu muda dan lemah untuk menetas di jagat yang penuh sengatan matahari ini. Ia masih harus diam lebih lama dalam cangkang yang kuat sebelum mentas. Dan Rasul berpikir untuk membuat embrio-embrio lain agar komunitas ini bisa diperluas. Sebuah strategi dakwah mulai disusun kembali. Setelah rencana pertama mengislamkan keluarganya berhasil dengan mulus.
Rasul akhirnya menetapkan untuk mencoba memperkenalkan Islam kepada teman-teman yang mempercayainya. Sebetulnya ini rencana mudah. Karena Rasul dikenal sebagai AL Amin, artinya semua orang pasti percaya ia akan berkata jujur. Cuma masalahnya, apakah orang-orang itu memiliki akhlak yang terpuji, sehingga mau diajak berbuat kebajikan dan terlebih-lebih menyembah Tuhan yang Tunggal?
Tentu saja tidak semuanya. Mereka bisa saja percaya Rasul adalah orang yang Al Amin, tapi bila itu menyangkut berhala, urusan kepercayaan terhadap Al Amin bisa menjadi urusan kesekian setelah fanatisme buta mereka terhadap berhala. Kemarahan yang tersulut bisa menutupi kebenaran yang pada dasarnya mereka percayai bila itu keluar dari mulut Rasul.
Artinya, mereka percaya pada Rasul apapun itu sepanjang Rasul tidak menyuruh mereka untuk tidak percaya pada berhala.
Itulah sebabnya lapis kedua setelah keluarga, adalah orang-orang yang punya akhlak cukup baik dan diperkirakan mau menerima ajaran ini. Sehingga konfrontasi secara langsung bisa dihindarkan. Ini bukan moment yang tepat melakukan konfrontasi semacam itu. Embrio ini betul-betul masih sangat lemah, sehingga tantangan fisik yang sangat keras yang bisa saja dialami, bisa dihindari. Tapi bila itu terjadi, resiko pembunuhan bukan hal yang mustahil mengingat karakteristik paganisme yang bengis. Bak membabat cendawan dengan parang. Sekali ayun, maka akan habislah sudah. Tamatlah usia agama baru. Karena itulah saat ini betul-betul yang diperlukan adalah membangun jaringan yang kuat.
Untuk memperluas jaringan, Rasul memilih berdakwah pada kerabat terdekat atau sahabat-sahabat terbaik mereka. Pilihan pertama jatuh pada Abu Bakr bin Abi Quhafa dari kabilah Taim. Abu bakar adalah sahabat terbaik yang dimiliki Rasul dan juga Khadijah. Ia dikenal sebagai orang yang bersih, jujur dan baik hati. Itulah sebabnya Rasul tanpa ragu menjelaskan agama baru ini padanya. Rasul mengajaknya untuk menyembah Allah Yang Tunggal. Tiada sekutu bagiNya. Dan bahwa Tuhan mengangkatnya sebagai Rasul Allah di muka bumi ini.
Karena Rahmat Allah jualah, dakwah ini disambut terbuka dan begitu mulusnya oleh Abu Bakar. Sahabat tercinta ini dengan penuh kesadaran mengimani apa yang diucapkan Rasul. Ia tahu, Muhammad tak pernah berdusta. Muhammad adalah pribadi paling halus dan berbudi yang pernah ia kenal. Namun sebaliknya, Abu Bakar sendiri adalah jiwa yang sedang mendamba kebenaran. Sebuah jiwa yang gelisah akan rusaknya moral masyarakatnya. Sehingga, jiwa manalagi yang memang sedang mendamba kebenaran hakiki ragu untuk meninggalkan berhala-berhala tak berguna itu? Jiwa manalagi yang rindu pada Tuhannya untuk segera meninggalkan kebatilan dan kesesatan?
Abu Bakar masuk Islam! Ah, betapa suka citanya Muhammad menemukan sekutu yang amat berarti ini. Tak henti-hentinya ia mensyukuri nikmat Allah ini. Kedudukan Abu Bakar dimata kaumnya cukup terpandang, ucapan-ucapannya didengar oleh orang-orang. Ia menguasai permasalahan dan seluk beluk bangsa Arab. Sebagai pedagang ia dikenal banyak relasi dan cukup dihormati, seperti reputasi yang dimiliki Khadijah.
Keimanan Abu Bakar mempermudah dakwah Rasul selanjutnya.
Berkat bantuan Abu Bakar, berturut-turut Usman bin Affan, Abdurrahman bin ‘Auf, Talhah bin ‘Ubaidillah, Sa’d bin Abi Waqqash dan Zubair bin’l-‘Awwam mengikutinya masuk Islam. Kemudian disusul Abu ‘Ubaida bin’l-Djarrah. Inilah gelombang pertama yang menyatakan keimanannya pada Rasul.
Gelombang berikutnya yang menyapu lebih dasyat lagi berhasil menambah jumlah komunitas agama muda ini. Hingga mencapai 40 orang. Suatu jumlah yang cukup fantastis mengingat inti ajaran ini yang cukup radikal. Mengejutkan bagi masyarakat Arab yang menganut paganisme dimana perbudakan masih merajalela dan ketidakadilan sosial menjadi pandemi yang mengerikan. Gagasan inti Islam yang mengajarkan kesamaan hak dan kedudukan semua umat manusia cukup menjadi magnet bagi mereka yang tertindas karena sistem sosial yang berlaku. Mereka golongan lemah (dhu’afa’un-nas) secara ekonomi dan sosial yang merindukan keadilan dan kesejahteraan. Namun hirarki, ketidakadilan dan pembagian kekuasaan yang teramat pincang juga menimbulkan rasa tidak puas golongan muda (ahdats ar-rijal) Arab yang tidak terlalu tergila-gila akan konsep kapitalisme yang dianut ayah-ayah mereka. Itu pula sebabnya kaum muda adalah golongan yang juga banyak merasakan magnet Islam ini untuk kemudian mengimaninya. Konsep Satu Tuhan yang diusung Rasul benar-benar membuat kaum muda ini terpikat. Mereka adalah generasi muda dengan pemikiran yang lebih maju dan rasional.
Turunnya wahyu dalam bahasa yang luar biasa indahnya itu juga menjadi semacam sinar diekor kunang-kunang. Berkerlap-kerlip ditengah kegelapan malam. Dan ketika wahyu itu dibacakan, sesuatu yang terkubur begitu dalam di hati mereka seakan tersentuh lalu melesak keluar. Bersamaan dengan kerinduan sekaligus mimpi yang secara tak sadar terukir dalam kalbu mereka.
Namun sesungguhnya, dasar keimanan mereka adalah mencari kebenaran yang hakiki. Dimana tuhan-tuhan yang mereka sembah mau menyodorkan ajaran yang rasional, adil dan tentu saja terbuka pada hal-hal baru. Dan kebenaran hakiki itu betul-betul disebarkan Nabi Muhammad.
Diluar itu, konsep Satu Tuhan benar-benar membuat mereka terkejut. Ini benar-benar diluar pemikiran mereka dimana mereka terbiasa pada konsep tuhan dengan kekuasaan tertentu. Yang kadang kekuasaan itu bisa menunjukkan bahwa satu tuhan lebih hebat dan menakutkan dibanding tuhan lainnya. Tuhan yang menguasai api tentu lebih menakutkan dibanding tuhan yang mengatur cuaca.
Itulah sebabnya dalam berdakwah Rasul lebih suka mengedepankan kosep Tuhan Yang Satu. Yang tiada sekutu baginya. Tuhan yang menguasai seluruh alam semesta ini, yang menciptakan manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, angin, gunung, lautan. Satu Tuhan yang menguasai segala-galanya. Ini benar-benar agama yang rasional. Karena sesungguhnya sulit sekali membayangkan bila tuhan api bertengkar dan kemudian berkelahi dengan tuhan tumbuh-tumbuhan. Apa yang terjadi? Siapa yang menang dan siapa yang kalah? Bagaimana bila ada tuhan yang mati?
Rasul juga tidak menjanjikan kehidupan ekonomi dan kedudukan sosial yang lebih baik. Tapi konsep bahwa semua mahkluk adalah sama di hadapan Allah cukup menggetarkan pilar-pilar spiritual mereka. Tuhan manalagi yang menganggap semua mahkluk ciptaannya berhak mendapat cinta dan perhatian yang sama kecuali Tuhan Yang Sesungguhnya. Jika Tuhan itu menentang penindasan antar umat manusia, tentu inilah Tuhan Yang Benar-benar. Inilah Tuhan yang selama ini mereka cari-cari. Tuhan yang mereka rindu-rindukan. Yang akan membimbing mereka kearah kebaikan. Membawa mereka kepada kebahagiaan hakiki.
Tentang Muhammad yang mengaku sebagai utusan Allah yang membawa wahyu-wahyu dariNya sesungguhnya tidak mereka persoalkan. Karena reputasi Muhammad selama ini cukup menjadi jaminan bagi mereka, bahwa apa-apa yang diucapkan Muhammad hanyalah kebenaran semata.
Akhlak Muhammad yang mulia menjadi dasar utama kemudahan mereka menerima ajaran baru yang luarbiasa itu. Dan mereka tidak keberatan bila dipimpin oleh Muhammad. Siapa pula yang mampu menolak pribadi seindah Nabi Muhammad?
