Seseorang ketika mengetahui suatu peristiwa yang terjadi atau menerima suatu berita dari sumber aslinya, adakalanya berdasarkan tanggapan pancaindera secara langsung, adakalanya tidak langsung.
Jika tempat dan jarak antara seseorang dengan terjadinya peristiwa itu sangat jauh atau penerima berita dengan sumber yang memberikan berita itu tidak hidup dalam satu generasi, mustahil bagi seseorang memperoleh kebenaran tentang sesuatu pemberitaan yang masing masing diterimanya dengan tidak langsung, jika tanpa menggunakan media media yang dapat dipercaya.
Untuk menguji kebenaran masing masing yang diterima secara tidak langsung itu, memerlukan suatu dasar atau sandaran, kepada dan dari siapa pengetahuan dan pemberitaan itu diterimanya. Jika pemberitahu atau penyampai berita itu bertahap tahap, maka si pemberitahu atau penyampai berita yang terakhir harus dapat menunjukkan sandarannya. Yakni orang yang memberitakan kepadanya dan orang yang memberitakan ini haurs dapat pula menunjukkan sumber asli yang langsung, yang menerima sendiri dari pemilik berita.
Untuk menerima hadits dari Nabi Muhammad, unsure unsur seperti pemberita, materi berita dan sandaran berita, satupun tak dapat ditinggalkan. Para muhadditsin menciptakan istilah istilah untuk unsure unsure itu dengan nama rawi matan dan Sanad (hadits).
I. RAWI
a) Ta’rif
Rawi adalah orang yang menyampaikan atau menuliskan dalam sebuah kitab apa apa yang pernah didengar dan diterimanya dari seeorang (gurunya). Bentuk jamak rawi = ruwah. Perbuatan seseorang dalam menyampaikan hadits tsb dinamakan me-rawi (riwayat)-kan hadits. Sebuah hadits sampai kepada kita sesudah melalui perawi terakhir. Contoh: Dari Ummul Mukminin, Aisyah r.a.: Rasulullah telah bersabda ‘Barangsiapa yang mengada adakan sesuatu yang bukan termasuk dalam urusan (agamaku) maka ia tertolak’ (HR Bukhari dan Muslim). Ini berarti bahwa rawi yang terakhir bagi kita, ialah Bukhari dan Muslim. KEndati pun jarak kita dengan beliau itu sangat jauh dan (pasti) kita tidak segenerasi dan tidak pernah bertemu. Tapi kita dapat menguji kitab Bukhari dan Muslim lewat berbagai sumber lainnya.
b) Sistem Penyebutan Nama Rawi
Sebuah hadits kadang kadang mempunyai sanad (sanad= jalan yang dapat menghubungkan matnu’l-hadits kepada junjungna kita Nabi Muhammad) yang banyak. Artinya, hadits tsb. terdapat dalam Kitab Kitab Hadits yang berbeda rawi (akhir)-nya. Contoh: ada hadits yang terdapat dalam Kitab Sahih Bukhari, tapi juga terdapat dalam Kitab Sahih Muslim, lalu Kitab Abu Dawud dll. Untuk menghemat mencantumkan nama nama rawi yang banyak jumlahnya tersebut, penyusun Kitab Hadits, biasanya tidak mencantumkan nama nama itu seluruhnya. Tetapi hanya merumuskan dengan bilangan yang menunjukkan banyak atau sedikitnya rawi hadits pada akhir matnu’l-haditsnya.
Misalnya rumusan yang diciptakan oleh Ibn Isma’il as-Shan’any dalam kitab Subulus Salam :
……………………….. akhrojahussab’atu
Maksudnya: Hadits itu diriwayatkan oleh 7 orang rawi, yaitu Imam Ahmad, Imam bukhari, Imam Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa’iy dan Ibnu Majah.
………………………….akhrojahussittatu
Maksudnya: Hadits itu diriwayatkan oleh 6 orang rawi, yaitu 7 orang rawi tsb diatas selain Ahmad.
…………………………..akhrojahulkhomsatu
Maksudnya: Hadits itu diriwayatkan oleh 5 orang rawi, yaitu 7 orang rawi tsb diatas dikurangi Bukhari dan Muslim. Rumusan ini dapat diganti dengan istilah: ……………………………akhrojahul arba’atu wa ahmad
Maksudnya: hadits tsb diriwayatkan oleh para ash-habu’s sunan yang 4 ditambah Imam Ahmad.
……………………………akhrojahul arba’atu
Maksudnya: hadits tsb diriwayatkan oleh para ash-habu’s sunan yang 4 yaitu Abu Dawud, At Tirmidzi, An-Nasa’iy dan Ibnu Majah.
……………………………akhrojahutstsalatsatu
Maksudnya: hadits itu diriwayatkan oleh 3 orang rawi, yakni Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa’iy.
Atau dapat juga dikatakan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ash-habu’s-sunan, selain Ibnu Majah.
Dst.
c) Sistem dan bentuk para Muhadditsin dalam menyusun Kitab Hadits
Para muhadditsin dalam usahanya menghimpun dan menyusun kitab kitab Hadits menggunakan bentuk bentuk seperti: Takhrij, Tashnif dan Ikhtishar.
c1 Takhrij
Istilah ini mempunyai 3 pengertian,
c11 Suatu usaha mencari sanad ((sanad= jalan yang dapat menghubungkan matnu’l-hadits kepada junjungna kita Nabi Muhammad) hadits yang terdapat dalam sebuah kitab hadits karya orang lain yang menyimpang dari sanad hadits karya lainnya. Contoh: seseorang mengambil sebuah hadits dari Kitab Shahih Bukhari, kemudian ia menemukan sanad hadits tsb yang tidak sama dgn sanad hadits yang telah ditetapkan oleh Bukhari dalam Kitabnya itu. Tetapi sanad yang berbeda itu akhirnya dapat bertemu dengan sanad Bukhari yang akhir. Usaha mukharrij (orang yang mentakhrijkan) tsb. akhirnya dihimpun dalam sebuah kitab. Kitab inilah yang kita sebut kitab mustakhraj. Contoh:
• Mustakhraj Abu Nua’aim, karya Abu Nua’aim adalah salah satu kitab takhrij Hadits Sahih Bukhari
• Takhrij Ahmad bin Hamdan, adalah salah satu dari kitab mustakhraj Sahih Muslim
c12 Suatu penjelasan dari penyusun Hadits bahwa hadits yang dinukilnya terdapat dalam kitab Hadits yang telah disebut nama penyusunnya. Misal, bila penyusun hadits mengakhiri pada nukilan haditsnya dengan istilah akhrojahu’l Bukhari, artinya ialah bahwa hadits yang dinukil oleh penyusun terdapat dalam kitab Bukhari.
c13 Suatu usaha penyusun hadits untuk mencari derajat, sanad dan rawi hadits yang diterangkan oleh pengarang suatu kitab. Misal:
• Takhrij Ahadisi’l-Kasysyaf, karya Jamaluddin Al Hanafi, ini adalah kitab yang mengusahakan dan menerangkan derajat hadits yang terdapat dalam kitab tafsir Al-Kasysyaf, yang oleh jamaluddin tidak dijelaskan tentang shahih, hasan dls.
• Al Mughni ‘an Hamli’l-Asfar, karya Abdu’r Rahim Al Iraqi, adalah kisah yang menjelaskan derajat derajat hadits yagn terdapat dalam kitab Ihya ‘Ulumi’ddin karya Imam Ghazali.
c2 Tashnif
Adalah usaha menghimpun atau menyusun beberapa (kitab) hadits dengan membubuhi keterangan mengenai arti kalimat yang sulit sulit dan memberikan interpretasi sekedarnya. Jika dalam memberikan interpretasi dengan cara mempertalikan dan menjelaskan dengan menggunakan hadits lain, ayat Al Quran atau ilmu yang lain, maka usaha semacam ini disebut men-syarah-kan. Contoh:
• Shahihu’l Bukhari bi Syarhi’l Kirmany, oleh Muhammad Ibn Yusuf Al Kirmani, adalah salah satu syarah kitab Sahih Bukhari
• Al Ikmal, oleh Al Qadli ‘Iyadl, contoh kitab syarah Sahih Muslim
C3 Ikhtishar
Adalah usaha meringkas kitab kitab Hadits. Biasanya yang diringkas adalah sanad dan hadits yang disebut berulang ulang oleh pengarangnya semula. Diantara mukhtashar Shahih Bukhari ialah kitab:
• Mukhtasharu’l Bukhari, karya Abu’l Abbas Al Qurthuby
• Mukhtasar Abu Jamrah, karya Ibnu Abi Jamrah
d) Gelar Keahlian Bagi Imam Imam Rawi Hadits
Para imam Hadits akan mendapat gelar keahlian dalam bidang ilmu hadits sesuai dengan keahlian, kemahiran dan kemampuan menghafal beribu ribu hadits serta ilmu ilmunya.
I. Amiru’l Mu’minin fi’l Hadits
Gelar ini sebenarnya diberikan kepada para Khalifah setelah Khalifah Abu Bakar. Mereka diberi gelar ini mengingat jawaban Nabi atas pertanyaan seorang sahabat tentang siapakah yang disebut khalifah, yaitu mereka yang sepeninggal Nabi menyampaikan riwayat hadits hadits. Para ahli hadits atau muhadditsin saat itu seolah olah berfungsi seperti khalifah dalam menyampaikan sunnah. Mereka yang mendapat gelar ini adalah :
o Syubah Ibnu’l Hajjaj
o Sufyan Ats Tsauri
o Ishaq bin Rahawaih
o Ahmad bin Hambal
o Al Bukhari
o Ad Daruqutni
o Imam Muslim
II. Al Hakim
Ini adlah gelar keahlian bagi imam imam Hadits yang menguasai seluruh hadits yang marwiyah (diriwayatkan), baik matan dan sanad dan mengetahui ta’dil (terpuji) dan tajrih (tercela)nya rawi rawi. Setiap rawi diketahui sejarah hidupnya, perjalanannya, guru guru dan sifat sifatnya yang dapat diterima maupun yang ditolak. Beliau harus dapat menghafal hadits lebih dari 300.000 hadits beserta sanadnya. Para muhadditsin yang mendapat gelar ini adalah:
o Ibnu Dinna (meninggal 162H)
o Al Laits bin Sa’ad, seorang mawali yang menderita buta di akhir hayatnya (meninggal 175H)
o Imam Malik (meninggal 179H)
o Imam Syafi’I (meninggal 204H)
III. Al Hujjah
Gelar keahlian bagi para imam yang sanggup menghafal 300.000 hadits, baik matan, sanad, maupun perihal si rawi tentang keadilannya, kecacatannya, biografinya (riwayat hidupnya). Para muhadditsin yang mendapat gelar ini :
o Hisyam bin Urwah (meninggal 146)
o Abu Hudzail Muhammad bin Al Walid (meninggal 149H)
o Muhammad Abdullah bin ‘Amr (meninggal 242H)
IV. Al Hafidh
Gelar ahli hadits yang dapat mensahihkan sanad dan matan hadits dan dapat men-ta’dil-kan dan men-jarh-kan rawinya. Beliau harus menghafal hadits hadits sahih, mengetahui rawi yang waham (banyak purbasangka), ‘illat ‘illat hadits dan istilah istilah para muhadditsin. Menurut sebagian pendapat, Al Hafidh itu harus mempunyai kapasitas menghafal 100.000 hadits. Para muhadditsin yang mendapat gelar ini:
o Al Iraqi
o Syarafu’ddin Ad Dimyathy
o Ibnu Hajar Al Asqalani
o Ibnu Daqiqi’l Id
V. Al Muhaddits
Menurut mutaqaddimin, Al Hafidh dan Al Muhadditsin itu searti. Tetapi menurut mutaakhkhirin, Al Hafidh itu lebih khusus dari Al Muhadditsin.
Al Muhadditsin adalah orang yang dapat mengetahui sanad sanad, ‘illat ‘illat, nama nama rijal (rawi rawi), ‘ali (tinggi) dan nazil (rendah)nya suatu hadits. Memahami Kutubu’s Sittah, Musnad Ahmad, Sunan Al baihaqi, Mu’jamu Thabarani dan menghapal hadits sekurang kurangnya 1000 buah. Mereka yang mendapat gelar muhadditsin al:
o Atha bin Abi Ribah (seorang mufti masyarakat Mekah, wafat 115H)
o Imam Az Zabidi (salah seorang ulama yang mengikhtisarkan kitab Bukhari-Muslim)
VI. Al Musnid
Gelar keahlian yang meriwayatkan hadits beserta sanadnya. Baik menguasai ilmunya atau tidak. Al Musnid juga disebut At Thalib, Al Mubtadi dan Ar Rawi.
II. MATNU’L HADITS
Yang disebut dengan Matnu’l Hadits ialah pembicaraan (kalam) atau materi berita yang diover oleh sanad yang terakhir. Baik pembicaraan itu sabda Rasulullah, sahabat maupun tabi’in. Dan isi pembicaraan itu tentang perbuatan Nabi atau perbuatan sahabat yang tidak disanggah oleh Nabi. COntoh perkataan sahabat Anas bin Malik: ‘Kami shalat bersama Rasulullah pada waktu udara sangat panas. Salah satu dari kami tak sanggup menekan dahinya (saat sujud) di atas tanah (karena panasnya), maka ia bentangkan pakaiannya (di atas tanah), lantas sujud di atasnya’ Perkataan sahabat yang menjelaskan perbuatan salah seorang sahabat yang tak disanggah oleh Rasulullah (kunna sampai fasajada’alaihi) disebut matnu’l hadits.
III. SANAD
a. Sanad disebut juga Thariq, ialah jalan yang dapat menghubungkan matnu’l hadits kepada Nabi Muhammad. Seperti kata Bukhari: Telah memberitakan kepadaku Muhammad bin al Mutsanna, ujarnya: ‘Abdul Wahhab ats Tsaqafi telah mengabarkan kepadaku, ujarnya: tTelah bercerita kepadaku Ayyub atas pemberitaan Abi Qilabah dari Anas dari Nabi Muhammad, sabdanya: 3 Perkara, yang barang siapa mengamalkannya niscaya memperoleh kelezatan iman.
i. Allah dan Rasulnya hendaknya lebih dicintai dari selainnya
ii. Kecintaannya kepada seseorang karena Allah semata mata
iii. Keengganan kembali kepada kekufuran, seperti keengganannya dicampakkan ke neraka.
Maka matnu’l hadits ‘Tsalatsun’ sampai dengan ‘an yuaqdza fa finnar’ diterima oleh Bukhari melalui sanad pertama Muhammad bin al Mutsanna, sanad kedua Abdul Wahhab ats Tsaqafi, sanad ketiga Ayyub, sanad keempat Abi Qilabah dst sampai sanad yang terakhir, Anas bin Malik yang langsung menerima sendiri dari Nabi Muhammad.
Dalam hal ini juga dapat dikatakan bahwa sabda Nabi tsb disampaikan oleh sahabat Anas bin Malik sebagai rawi pertama kepada Abu Qilabah sebagai rawi kedua, yang menyampaikan kepada Ats Tsaqafi sebagai rawi ketiga, yagn kemudian menyampaikan kepada Muhammad bin Mutsanna, hingga sampai kepada Bukhari sebagai rawi terakhir.
Dengan demikian Bukhari menjadi sanad pertama dan rai terakhir bagi kita. Dalam bidang ilmu hadits, sanad merupakan neraca untuk menimbang shahih atau dla’ifnya suatu hadits. Andaikata salah seorang dalam sanad sanad itu ada yang fasik atau tertuduh dusta,maka dla’if-lah hadits itu. Hingga tidak dapat dijadikan hujjah untuk menetapkan suatu hukum.
b. Arti Isnad, Musnid dan Musnad
i. Isnad : usaha seorang ahli hadits dalam menerangkan suatu hadits yang diikutinya dengan penjelasan kepada siapa hadits itu disandarkan.
ii. Musnid : orang yang melakukan isnad
iii. Musnad : hadits yang telah di-isnad oleh musnid disebut hadits musnad. Contoh: musnad Asy Syihab dan musnad Al Firdaus, merupakan kumpulan Hadits yang telah diisnadkan oleh Asy syihhab dan Al Firdaus. Tapi musnad dapat juga berarti:
1. Hadits yang marfu lagi muttashil (sanadnya bersambung sambung)
2. Nama kitab yang menghimpun seluruh hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat.
c. Tinggi Rendahnya rangkaian Sanad
Suatu hadits akan sampai kepada kita, tertulis dalam dewan hadits, melalui sanad sanad. Setiap sanad bertemu dengan rawi yang dijadikan sandaran menyampaikan berita (sanad yang setingkat lebih atas). Sehingga seluruh sanad merupakan suatu rangkaian.
Rangkaian sanad itu ada yang berderajat tinggi, sedang dan lemah. Mengingat perbedaan ke-dlabith-an (kesetiaan ingatan) dan keadilan rawi yang dijadikan sanadnya. Rangkaian sanad yang berderajat tinggi menjadikan suatu hadits lebih tinggi derajatnya disbanding sanad yang rangkaianya lebih rendah atau lemah.
Para muhadditsin membagi tingkatan sanadnya menjadi:
i. Ashahhu’l asanid (sanad sanad yang lebih sahih)
ii. Ahsanu’l asanid (sanad sanad yang lebih hasan)
iii. Adl’afu’l asanid (sanad sanad yang lebih lemah)

