
Prolog : Meneladani Kecerdasan Emosi & Spiritual Nabi [1]
Prolog
Apakah perbedaan antara kecerdasan intelektual dengan kecerdasan emosi? Jika pertanyaan ini diajukan pada anda, besar kemungkinan anda akan fasih menjawabnya.
Tapi jika pertanyaan dilanjutkan menjadi, apa perbedaan antara kecerdasan emosi dengan kecerdasan spiritual? Besar kemungkinan pula, anda bingung untuk menjawabnya. Bukan karena tidak tahu arti kata emosi dan spiritual, tetapi justru karena terlalu jelas perbedaan antara emosi dan spiritual.
Namun jika kedua kata itu digandeng dengan kecerdasan, masihkah kita paham perbedaannya?
Gagasan tentang adanya kecerdasan spiritual itu sendiri sesungguhnya barang lama dalam kemasan baru. Walaupun sesungguhnya kata spiritualisme itu sendiri memberi ‘nuansa’ yang (sedikit) asing sekaligus gersang bagi kamus pribadi kebanyakan kita.
Orang masih suka terbius (dan kelihatannya masih lama) akan kehebatan emosi. Kecerdasan ini sering digembar-gemborkan oleh para pakar, sebagai penyelamat hidup anda. Yang akan membawa anda pada kebahagiaan di masa depan. Yang akan mensukseskan anda. Akan menjauhkan anda dari kemiskinan yang akut.
Coba perhatikan contoh yang sering diulang-ulang ini. Suatu hari, seorang anak diiming-iming sebatang coklat oleh gurunya dengan janji ia akan diberi dobel bila mampu duduk tenang, sabar menunggu hingga bel pulang berdentang.
Nah, berdasarkan contoh, yang katanya merupakan percobaan ilmiah, ada sebagian anak-anak yang mampu ‘menahan emosinya’ dengan duduk manis hingga bel pulang dipukul bertalu-talu.
Tapi ada juga anak-anak yang tidak tahan hanya duduk-duduk saja, tanpa menunggu waktu usai, mereka segera keluar kelas tanpa menghiraukan iming-iming coklat yang akan digandakan. Bagi mereka, satu coklat sudah cukup memuaskan. Untuk apa satu coklat lagi bila harus ditukar dengan duduk-duduk tenang seperti itu? Untuk apa satu coklat lagi, bila kemudian kita kehilangan waktu bermain bersama sahabat-sahabat terbaik yagn kita miliki? Bila kita tak bisa membaginya dengan teman dan saudara, buat apa coklat-coklat itu?
Berdasarkan teori Psikologi, anak yang mampu menahan diri dalam kelas dan kemudian mendapat dua coklat, akan mendapat sukses besar dalam karirnya kelak. Anak-anak seperti ini disinyalir pula akan berbahagia lahir batin karena mampu menahan dan mengendalikan ‘emosinya’.
Benarkah?
Kalau contoh yang dibawah ini, percayalah, sungguh-sungguh nyata terjadi di Republik kita ini. Dan ini adalah contoh sukses dari seseorang yang punya ‘kecerdasan intelektual dan emosi’ tinggi.
Seorang ketua partai Islam, ditanya oleh seorang mahasiswi:
“Mengapa anda memilih gaya hidup mewah? Sementara anda tahu banyak rakyat di negeri ini yang miskin bahkan kelaparan?”
Si ketua partai yang selalu jadi menteri ini menjawab dengan tenang. Suaranya mengalir jelas, matanya hanya berpusat pada si mahasiswi. Raut wajahnya sungguh ter’tata’. Tak lupa dengan senyum bersahabat, ia menjawab:
“Saya akan jawab pertanyaan anda dengan satu kalimat. Anda tahu suku Irian (sekarang Papua) pedalaman? Bagaimana cara mereka berpakaian? Ketahuilah, mereka memakai koteka! Dan memang mereka miskin. Lalu, apakah saya harus memakai koteka juga untuk menunjukkan keprihatinan saya? Haruskah?”
Dan si mahasiswi tentu tak perlu menjawab (selain karena mik telah berpindah) karena juga sulit membayangkan bila ada ketua partai kemana-mana memakai koteka. Apalagi dia seorang pemimpin (partai) Islam!
Jawaban si ketua partai, benar-benar menunjukkan kecerdasan intelektual sekaligus emosinya. Lihatlah jawabannya yang sangat sangat logis. Kata-katanya terstruktur rapi. Perhatikan pula wajahnya, tak ada emosi yang menggelegak karena rasa tersinggung, misalnya.
Nah, dari contoh diatas, tentu kita sangat paham sekarang, apa yang disebut ‘kecerdasan emosi’.
Lalu, bagaimana dengan kecerdasan spiritual? Contoh di bawah ini barangkali bisa memberi penjelasan pada anda.
Suatu hari, Umar bin Khatab menangis pilu berkepanjangan melihat Rasulullah tidur diatas tikar yang kasar. Sebagian tubuh beliau berada di atas tanah. Dan struktur tikar kasar itu membekas diatas kulit Rasulullah.
“Mengapa engkau menangis, hai putra Khatab?” Rasulullah bertanya.
“Aku tak bisa menerima gagasan bahwa Khosroes dan Caesar, para penguasa Iran dan Byzantium, hidup dalam kemewahan. Sedangkan engkau ya Nabi Allah, selalu kelaparan dalam kemiskinan”
“Mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga, kesenangan yang akan cepat berakhir.
Sedangkan kita, adalah kaum yang menangguhkan kesenangan untuk hari akhir”
Ketika turun Al Quran surat Al Imran 92, yang berbunyi:
Kamu belum memperoleh kebajikan sebelum kamu menginfaqkan sebagian dari harta yang paling kamu cintai.
Abu Thalhah segera menemui nabi, “Ya Rasulullah,”katanya,”Sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah Birha (kebun kurma). Aku serahkan itu sebagai sedekah karena Allah. Aku ingin menyimpannya di sisi Allah. Letakkanlah ya Rasul Allah, ditempat yang dikehendaki Allah”
“Wah, ini harta yang banyak mendatangkan pahala. Dzaka malun rabih. Bagikan kepada keluargamu yang miskin” jawab Rasul.
Jika Thalhah demikian, bagaimana dengan kita? Mudah saja, harta yang paling kita cintai adalah uang receh. Itulah sebabnya kita gemar memberi uang receh pada kota-kotak amal di mesjid-mesjid. Atau diatas tangan-tangan pengemis tua yang kurus kering. Atau untuk mengisi buku tabungan anak-anak kita.
Kita juga cinta dengan baju-baju bekas (yang layak pakai,begitu biasanya kita menambahi) karena itu yang paling sering kita dermakan untuk mereka yang sedang ditimpa bencana dan kesedihan.
Bagaimana, apakan anda sudah bisa menangkap perbedaan antara tiga kecerdasan itu?
Mudahnya begini, jika anda mempergunakan kecerdasan intelektual dan emosi itu untuk meraih cinta Illahi, itu berarti anda cerdas secara spiritual. Tapi bila kecerdasan intelektual dan emosi anda pergunakan hanya untuk meraih kesuksesan hidup, kenikmatan materi atau pun kedudukan yang tinggi, sungguh, anda bukan saja bodoh secara spiritual. Tapi juga, sia-sialah hidup anda.
Karena sesungguhnya, segala kesuksesan itu anda raih dengan ‘mengorbankan’ harga diri anda, nama baik anda bahkan nilai-nilai agama anda. Yang tentu saja hal-hal itu tadi tidak anda kenal dalam kamus kecerdasan emosi. Hal itu hanya anda bisa pahami dan percayai lewat spora agama. Yang mengajarkan nilai-nilai baik dan buruk berdasarkan Ridho Illahi.
Dan, semua teladan kecerdasan spiritual, dapat kita pelajari dengan membaca kisah Nabi Agung yang Mulia ini. Karena, bukankah Muhammad adalah sebaik-baik teladan?
Semua prilaku Nabi Muhammad adalah keindahan yang tak terlukiskan. Dan kata-katanya bagaikan nyanyian daun-daun palm dimusim semi. Bila barisan ulat saja merindukan nafas Beliau, mengapa kita tidak? Karena bukankah tak ada yang terlihat dari Nabi Muhammad, kecuali teladan yang baik?
Semua itu, Insya Allah, bisa anda pelajari lewat tulisan sederhana ini.
Selamat membaca dan mereguk sebanyak-banyaknya kecerdasan spiritual dari Sang Sufi Tertinggi!

