Asma binti Umar menceritakan, bahwa Nabi pernah bertanya padanya:
“Apa yang kamu pakai untuk melancarkan buang air besar?”
“Syubrum” jawab Asma.
“Itu panas sekali” sabda Nabi.
“Aku juga pernah melancarkan buang air besar dengan sanaa” lanjut Asma.
“Jika ada obat yang bisa menyembuhkan seseorang dari kematian, obat itu pasti sanaa” jawab Nabi. (HR Tirmidzi)
Abdullah bin Haram meriwayatkan, “Gunakanlah tanaman sanaa dan sunuut. Karena kedua tanaman itu mengandung obat untuk segala macam penyakiit kecuali penyakit saam.
“Apa penyakit saam itu?” tanya seseorang
“Mati” jawabnya. (HR Ibnu Majah)
Sebagian orang Arab Badui menyatakan, bahwa tanaman sunuut berkhasiat melunakkan zat zat zat yang ada di dalam tubuh. Obat pencahar disebut masyiy (pelancar), mengikuti wazan “Fa’iil”. Ada yang berpendapat, disebut begitu karena pengguna obat pencahar banyak dimanfaatkan untuk keperluan tertentu.
Syubrum adalah kulit akar pohon. Karakternya panas kering pada level ke 4. Para dokter tidak menganjurkan penggunaannya sebagai obat pencahar, karena bisa menyebabkan dehidrasi secara berlebihan. Obat ini bisa melunturkan obat obatan, kotoran yang keras, air kuning dan dahak. Dapat menimbullkan sesak dada dan rasa mual. BIla di konsumsi terlalu banyak bisa mematikan.
Bila hendak dikonsumsi sebaiknya direndam terlebih dahulu dalam susu segar selama sehari semalam. Kemudian dalam sehari susu tersebut harus dig anti sebanyak dua atau tiga kali. Lalu dikeluarkan dan dikeringkan ditempat yang tidak terkena panas sinar matahari secara langsung.
Kemudian di campur dengan mawar dan khastira (cairan yang keluar dari pokok pohon tertentu yang hanya ada di pegungunan Lebanon). Lantas di minum dengan air madu atau jus anggur. Dosisnya dimulai dari 2 danniq (1 danniq= 1/6 dirham. 1 dirham= 2,975 gram) hingga 4 danniq. Tergantung stamina masing masing orang.
Ada yang berpendapat, bahwa syubrum sama sekali tidak mengandung zat zat yang baik untuk tubuh. Para tabib jalanan telah membunuh banyak orang dengan obat ini. Tentang sabda Nabi: ‘”Haar, haar (panas sekali)” yang dalam riwayat lain dikatakan: “Haar, baar” Abu Ubaid menyatakan, “Mayoritas menyatakan dengan “baa’ (bukan “haa”).
Menurut salah satu pendapat, maksudnya adalah panas dan efek pencaharnya sangat kuat. Tapi ada yang berpendapat, bahwa hal itu termasuk itba’ yang dimaksudkan sebagai penguat kata yang pertama.
Padahal, kata ‘haar’ mempunyai makna lain. Yaitu sesuatu yang melepaskan apa saja yang mengenainya karena panasnya yang luar biasa. Kata ‘baar’ adalah dialek lain dari kata ‘haar’.
Sama seperti kata ‘shihriij’ dan ‘shihrii’ atau ‘shaharii’ dan ‘shaharij’ dan ‘shahariij. Atau diposisikan sebagai kata sifat atau penguat. Sedangkan sanaa (dibaca panjang) atau sana (dibaca pendek) adalah tanaman yang tumbuh didaerah Hijaz. Yang terbaik adalah yang tumbuh di daerah Makkah. Tanaman ini aman di konsumsi. Karakternya panas kering pada level pertama.
Berkhasiat mencaharkan unsure kuning & hitam, dan menguatkan badan jantung. Sangat manjur untuk mengobati penyakit was was yang diakibatkan oleh unsure hitam. Juga sangat efektif untuk mengobati luka luka yang ada di dalam tubuh, membuka otot otot dan melebatkan rambut. Mengatasi kutu rambut, sakit kepala yang berat, kudis, jerawat, gatal gatal dan epilepsy (ayan).
Lebih baik di minum dengan cara di rebus daripada diminum degnan cara di tumbuk. Dosis yang disarankan sampai 3 dirham (1 dirham= 2,975 gram). Sedangkan dosis untuk airnya bisa sampai 5 dirham. Dan akan lebih baik lagi bila direbus bersama bunga violet, zabib (anggur kering) merah yang sudah dibuang isinya. Namun ada yang berpendapat, bahwa dosis untuk sup sana adalah antara 4-7 dirham.
Bisa bubur ayam yang sangat panas, kamuun (jinten manis/ cumin) atau biji bijian yang sejenis, raziyang, syibit dan kurma. Madu yang ada di dalam jalur samin juga termasuk sunuut.
Jadi tanaman sana ditumbuk halus lalu dicampur dengan madu yang telah bercampur dengan samin. Sebab kedua zat tersebut dapat meningkatkan khasiat sana dan membantu mencaharkan zat zat yang ada di dalam tubuh. Wallahu a’lam.

