![images10 images1014 Bab II: Ditengah Masyarakat Paganisme [15]](http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2010/01/images1014.jpg)
Abu Thalib memang tak pernah lagi keluar kota untuk berdagang. Ia menetap di Mekah sambil mengasuh anak-anaknya yang banyak kendati hartanya Cuma sedikit. Namun ia merasa cukup dengan hasil keuntungan dari perniagaan ke negeri Syam dulu. Muhammad pun tetap tinggal bersamanya, menerima apa yang ada dengan penuh rasa syukur dan ikhllas. Bersama keluarga Abu Thalib, Muhammad menikmati kehidupan yang amat bersahaja. Kendati tidak berkelebihan, namun ia bahagia. Sang paman mengasuhnya dengan cinta dan kasih sayang yang seakan tak pernah kering dan susut. Lemah lembut perkataan Abu Thalib kepada Muhammad, begitu pula kepada anak-anaknya yang lain. Sama seperti sang kakek Abdul Muthalib, Abu Thalib pun amat mencintai Muhammad. Kelak, Abu Thalib akan membuktikan cintanya yang begitu dalam kepada sang keponakan ini dengan ujian yang sangat berat. Kaum Quraisy berkali-kali akan menempatkan Abu Thalib pada posisi yang membahayakan karena perlindungannya kepada Muhammad.
Muhammad barada dibawah asuhan sang paman cukup lama. Pada periode inilah ia merasakan ‘sungguh-sungguh menjadi bagian sebuah keluarga’.
Di waktu-waktu senggang, kadangkala Muhammad dan saudara-saudara sepupunya pergi mendengarkan sejumlah penyair tenar Arab membacakan karya-karya puisi mereka. Telinganya terpesona dengan oleh sajak yang fasih melukiskan lagu cinta dan puisi kehormatan, melukiskan nenek moyangmereka, peperangan mereka hingga jasa-jasa mereka. Muhammad juga mendengar pidato-pidato yang dilakukan dengan cara berdiri disebuah bukit tinggi kemudian orang-orang berkerumun di bawahnya. Kadang-kadang orang Nasrani dan Yahudi pun ikut berpidato membicarakan kebenaran agama mereka dan bagaimana mereka mencela dan membenci paham paganisme Arab (seperti menyembah berhala). Mereka juga bicara tentang kitab suci Injil, Taurat bahkan tentang Isa dan Musa dan mengajak orang-orang mengikuti keyakinan mereka.
Ikut sertanya orang Nasrani bahkan Yahudi dalam berbicara secara terbuka tentang agama mereka, sesungguhnya menunjukkkan bahwa Mekah telah menjadi daerah tak bertuan. Sejak kematian Abdul Muthalib, kepemimpinan terus diperebutkan oleh para kabilah Arab. Ini disebabkan kevakuman kekuasaan di Mekah sehingga timbullah keberanian orang Nasrani dan Yahudi berkoar-koar tentang agama mereka. Sesuatu yang mustahil terjadi ketika Abdul Muthalib masih hidup dan memegang tampuk kekuasaan.
Semua hal itu didengar Muhammad, diserapnya dengan bijak lalu dianalisa dengan ketajaman akalnya.
Tetapi ia terus meragukan bahkan mempertanyakan kebenaran hakikat ketuhanan yang diusung Nasrani dan Yahudi itu. Ia merasa ada kesalahan yang fatal dalam konsep tersebut. Mengapa tuhan harus dipahami lewat konsep trinitas? Atau mengapa kaum Yahudi menganggap mereka menjadi bangsa pilihan tuhan sehingga Abraham memastikan Yahudi seharusnya menjadi penguasa di muka bumi ini? Mengapa Tuhan sampai mau bernegosiasi, tawar menawar dengan kaum Yahudi ketika berada di lembah Canaan yang kemudian mereka klaim sebagai tapal-tapal batas kasar pertama negara Israel?
Muhammad tidak mengerti sama sekali mengapa tuhan dijadikan bersifat Spiritual ketimbang bersifat material yang kemudian bebas diubah bangsa Yahudi dengan membatasi spiritualitas Tuhan ketimbang mengganti kemunculan fisiknya semata?
Bagaimana mungkin spiritual bisa bebas melayang tanpa pernah menyentuh material? Atau tuhan menjadi begitu lemahnya hingga mau mengadakan perjanjian dengan manusia?
Kedua agama ini tak lebih masuk akalnya dengan agama yang dianut masyarakatnya.
Agama yang diklaim masyarakatnya sebagai agama nenek moyang, warisan Nabi Ibrahim. Yaitu memuja dan menyembah berhala. Muhammad benar-benar tak habis pikir, bagaimana sebuah batu bisa menjadi lebih berkuasa dibanding pembuatnya? Bagaimana mungkin tuhan bisa dibuat dan ditemukan dengan mudahnya? Mereka memunguti batu apapun yang menurut mereka bagus untuk dibawa ke dalam rumah atau ke Kabah, lalu disembahnya. Bila kekurangan batu yang bagus, mereka akan mengasah batu-batu sehingga menjadi indah menurut pandangan mereka. Namun, bila mereka tak menemukan sebuah batu pun, mereka akan mengambil pasir lalu dibentuknya menjadi sebuah patung dan disembahnya. Lalu, siapakah yang disebut sang pencipta, manusia itu atau patung? Benar-benar agama yang tak masuk akal.
Setelah perdagangannya ke negeri Syam yang lalu, Muhammad mulai memasuki fase berpikir yang lebih intens dan dalam. Saat-saat ia tinggal bersama Abu Thalib inilah ia mulai fase-fase awal spiriualitas kenabian, tanpa disadarinya. Dan tentu saja, Allah membimbing kekasihNya itu dengan sangat halus namun pasti. Tak sedetik pun Allah SWT melepaskan Muhammad bagai layang-layang yang putus. Semua yang dialami Muhammad adalah atas kendali dan desain Allah.(interpretasi) Karena Allah tengah mempersiapkan Muhammad untuk menjadi seorang Pemberi Peringatan. Menjadi Teladan paling sempurna di muka bumi ini.
Bangsa Arab, sebagaimana bangsa-bangsa lainnya yang masih memiliki kepercaan paganisme, sudah bisa dipastikan memiliki corak entitas atau kesamaan prilaku.
Misalnya dalam paganisme, kesenangan adalah hal utama dalam hidup. Itu sebabnya orang-orang Arab atau penganut paganisme di Roma hidup dalam gelimang foya-foya, bersenang-senang, bermaksiat ketimbang melakukan kebaikan. Mereka menciptakan aturan dengan batas keuntungan diri pribadi. Mereka bahkan tidak segan-segan berbicara dusta hanya untuk sekantung gandum. Mereka memperlakukan perempuan dengan sangat buruk, perempuan disamakan dengan harta yang jika sudah tidak menguntungkan akan dijual bahkan dicampakkan begitu saja seperti sampah.
Pada kenyataannya, hidup jahiliah pun tidak hanya dilakukan oleh orang-orang kaya Mekah. Mereka yang hidup miskin pun tak pernah mampu memilah antara sikap hidup yang baik dengan yang buruk. Sama seperti kaum kayanya, mereka juga kerap bermabuk-mabukkan, berjudi, merampas hak orang lain dan berfoya-foya.
Begitulah prilaku orang-orang Arab pada umumnya. Hampir semua orang telah melakukan kerusakan yang mengerikan di muka bumi ini, ini semua berlomba berbuat kejahatan. Bicara bohong sudah tidak aneh lagi. Menghianati perjanjian atau lari dari tanggung jawab pun demikian.
Bisa kita bayangkan betapa kacaunya kehidupan social mereka. Tapi, jika permasalahan sudah menyentuh Kabah atau Berhala, mereka seketika bisa berubah menjadi Ksatria-ksatria paling berani dan berbudi. Tanpa takut, mereka akan bela Kabah dan Berhala, mereka bahkan berani mempertaruhkan nyawa hanya untuk menjaga kemuliaan Kabah dan berhala-berhala mereka.
Muhammad, seringkali merasa gelisah hidup di tengah-tetngah masyarakat yang bertabiat seperti ini. Ia merasa seakan akan hidup dalam sebuah sungai yang tercemar. Bagaikan ikan dalam arus bahan kimia.
Mungkinkah ia bisa bersih tanpa terkena limbah? Sampai kapan kekacauan ini akan berakhir?

![Bab II: Ditengah Masyarakat Paganisme [15] more Bab II: Ditengah Masyarakat Paganisme [15]](http://nabimuhammad.info/wp-content/plugins/sociable/images/more.png)