Kini, tibalah saat Abu Sufyan kembali beserta kafilahnya yang membawa barang dagangan yagn mereka peroleh dari Syria. Nabi mengutus Thalhah dan sepupu ‘Umar, Sa’id putra Zayd yang hanif – menuju Hawra di pesisir, di sebelah barat Madinah, untuk menyampaikan kabar kepadanya secepat mungkin begitu pasukan Abu Sufyan tiba. Inilah yang memungkinkan Nabi, dengan bergerak cepat ke barat daya, menyusul kafilah itu sampai ke pesisir. Dua mata mata yang diutus Nabi itu disambut baik oleh pemimpin Juhaynah, kemudian di sembunyikan di rumahnya sampai kafilah itu lewat.
Namun pemimpin Juhaynah dan kedua mata mata itu mungkin hanya dapat menyembunyikan diri mereka sendiri, karena seseorang di Madinah, pasti seorang munafik atau Yahudi, telah membocorkan rencana rencana Nabi terhadap Abu Sufyan tersebut.
Abu Sufyan pun menyewa seorang laki laki suku Ghifari, bernama Damdam, untuk cepat cepat pergi ke Mekah, mendesak kaum Quraisy untuk segera mengerahkan tentara demi keselamatan kafilah mereka. Sementara ia sendiri bererak maju, menyusur sepanjang rute pesisir siang dan malam.
Namun, hal itu bukan satu satunya masalah penting yang sedang dihadapi Nabi. Beliau ingin tetap tinggal di Madinah sebisa mungkin, karena putrinya, Ruqayyah, sedang sakit keras. Tetapi kepentingan pribadi itu harus di korbankan. Dan daripada terlabat, beliau segera berangkat tanpa menunggu intelnya kemblai. Saat dua mata mata itu tiba di Madinah, Nabi telah berangkat bersama 350 pasukan dari kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Saat itu ada 77 orang Muhajirin di Madinah dan semuanya turut kecuali 3 orang : menantunya, Utsman yang diminta untukmenjaga istrinya, Ruqayyah yang sedang sakit keras, Thalhah dan Sa’id yang belum kembali dari pesisir.
Pada perhentian pertama, masih didalam wilayah oasis itu, sepupu Nabi, Sa’d dari Zuhrah, memperhatikan saudara laki lakinya yang berusia 15 tahun, ‘Umayr, tampak gelisah dan cemas. Ia menanyakan apa sebabnya. “Aku takut,” jawab Umayr. “Kalau kalau Nabi melihatku dan menganggapku masih terlalu muda untuk turut dalam pasukan ini dan kemudian menyuruhku pulang kembali ke rumah. Padahal aku benar benar ingin berjihad hingga Allah menganugrahi aku kesyahidan”
Seperti yang ‘Umayr takutkan, Nabi memperhatikan dia saat memeriksa barisan. Beliau mengatakan bahwa ia terlalu muda dan di suruh pulang. Tetapi, ‘Umayr menangis sehingga akhirnya di izinkan untuk tetap tinggal dan turut dalam ekspedisi itu. “Ia masih sangat muda,” cerita Sa’d, “bahkan aku masih harus membantunya mengikatkan tali pedangnya”
Ada 70 unta bersama mereka, 3 – 4 orang mengendarai 1 unta dan 3 kuda yang salah satunya milik Zubayr.
Bendera putih di serahkan kepada Mush’ab, karena ia berasal dari suku Abd al-Dar, keturunan langsung pemegang bendera perang kaum Quraisy.
Barisan terdepan adalah Nabi sendiri yang didahului dengan 2 panji hitam, satu panji dari kaum Muhajirin, dan satu lagi dari kaum Anshar. Panji panji itu di junjung dengan penuh rasa hormat dan kebanggaan oleh Ali dan Sa’d ibn Mu’adz dari kaum Anshar.
Selama Nabi tidak berada di Madinah, shalat di pimpin oleh Ibn Umm al-Maktum, seorang laki laki buta yang di dalam Quran diceritakan “Ia memalingkan wajah ketika datang seorang buta kepadanya”
Di Mekah, sesaat sebelum kedatangan Damdam, bibi Nabi, ‘Atikah, bermimpi buruk tentang bencana yang akan menimpa kaum Quraisy. Kemudian, ‘Atikah menemui saudara laki lakinya, ‘Abbas dan menceritakan mimpinya;
Aku melihat seorang laki laki menunggang unta yang berhenti di lembah dan berteriak dengan sangat lantang. ‘Cepat kerahkan kekuatanmu, wahai orang orang kafir! Hadapilah malapetaka yang akan menimpamu dan meruntuhkanmu dalam 3 hari!” Aku melihat orang orang mengerumuninya. Kemudian, ia memasuki masjid dan orang orang mengikutinya. Dari tengah tengah mereka, ia keluar dengan menunggang unta yang dibawanya kepelataran Kabah, dan ia meneriakkan kembali kata kata yang sama. Unta itu membawanya lagi ke puncak bukit Abu Qubays, dan sekali lagi, ia meneriakkan kata kata yang sama kepada orang orang yang mengikutinya. Kemudian, ia menjatuhkan sebuah batu besar yang menggelinding menuruni bukit. Ketika mencapai kaki bukit, batu itu terpecah berkeping keeping. Tak satupun tempat tinggal di Mekkah yang tertinggal karena hancur berantakan.
Abbas menceritakan kembali mimpi saudara perempuannya itu kepada sahabatnya, walid ibn ‘Utbah. Walid menceritakan mimpi itu kepada ayahnya, dan dalam sekejab tersebar ke seluruh kota. Pada hari berikutnya, Abu Jahl berseru di depan ‘Abbas, dengan nada mengejek. “Hai putra ‘Abd Muththalib, sejak kapan nabi nabi mengungkapkan ramalannya diantara kalian? Tidak cukupkah bagimu setelah orang orangmu mempermainkan kenabian? Haruskah kaum perempuanmu ikut ikutan melakukan hal yang sama?”
Abbas tak dapat membalas ledekan itu, tetapi ‘Abu Jahl mendapatkan balasannya ketika esok harinya tebing tebing Abu Qubays menggemakan teriakan Damdam. Orang orang segera berhamburan keluar dari rumah dan masjid, menuju tempat Damdam berhenti di lembah. Ia telah dibayar banyak oleh Abu Sufyan, sehingga ia harus memainkan peran dengan sebaik baiknya. Ia turun dari pelana dan memegang kepala untanya. Sebagai pertanda akan datangnya bencana, ia mencongkel hidung untanya hingga berdarah dan menghapus darah itu dengan bajunya sendiri.
“Orang orang Quraisy!” teriaknya, “Unta unta tunggangan, unta unta tunggangan! Semua keperluanmu sedang dibawa oleh Abu Sufyan, Muhammad dan pengikutnya menyerang! Tolong! Tolong!”
Kota itu langsung gempar. Kafilah yang kini sedang dalam bahaya itu adalah kafilah terkaya sepanjang tahun, dan banyak orang yang sangat takut kehilangan kekayaan mereka itu. Pasukan, kira kira seribu orang, segera disiapkan.
“Apakah Nabi dan para pengikutnya berpikir bahwa kafilah itu milik Ibn al Hadhrami?” Tanya mereka, menunjuk pada ‘Amr, sekutu ‘Abd al-Syams yang terbunuh oleh tusukan anak panah di Nakhlah pada bulan suci. Hanya suku ‘Adi yang tidak turut dalam ekspedisi itu. Sedangkan setiap kepala suku yang lain berangkat, kecuali Abu Lahab, yagn membayar seorang Makhzum untuk mewakili dirinya. Namun Bani Hasyim dan Bani Muththalib memiliki kepentingan dengan kagilah tersebut dan merasa lebih terhormat bila turut serta, maka Thalib mengantarkan sekelompok pria dari kedua suku tersebut. ‘Abbas pergi bersama mereka, mungkin bermaksud menjadi juru damai. Hakim dari Asad, keponakan Khadijah, berangkat dengan tujuan yang sama. Seperti Abu Lahab, Umayyah dari Jumah juga memutuskan untuk tetap tinggal di rumah, karena dia sudah tua dan sangat gemuk. Tapi, ketika ia sedang duduk di masjid, ‘Uqbah mendekatinya, meletakkan sebuah pedupaan di belakangnya dan berkata, “Harumkanlah dirimu dengan ini, Abu Ali, biar tubuhmu wangi seperti perempuan!”
“Kurang ajar kamu!” seru Umayyah dan ia segera bangkit dan bersiap pergi bersama yang lain.
Nabi kini telah berangkat dari Madinah ke selatan dan menuju Badr, yang terletak di rute pesisir antar Syria dan Mekah, kea rah Barat. Nabi berharap dapat mencegat Abu Sufyan di Badr. Beliau mengirimkan dua orang sekutu mereka dari Juhaynah (yang tahu betul daerah itu) untuk mencari berita tentang kafilah itu. Di Badr, dua utusan Nabi itu berhenti di bukit dekat sumur. Saat hendak mengambil air, mereka mendengar pembicaraan 2 gadis desa tentang hutang.
“Satu kafilah akan lewat besok atau lusa” kata salah seorang kepada temannya.
“Aku akan bekerja untuk mereka dan hutangku padamu akan kubayar dengan upah itu”
Begitu mendengar pembicaraan itu mereka langsung kembali ke Nabi dengan membawa kabar itu. Andai kata mereka menetap di tempat itu sebentar saja, mereka dapat melihat penunggang kuda dari arah barat. Dialah Abu Sufyan itu sendiri, berjalan mendahului kafilahnya untuk memastikan apakah kafilahnya dapat melewati jalur terdekat ke Mekkah, jalur Badr, dengan aman. (bersambung)

