![images10 images1013 Bab II: Perdagangan Pertama Ke Negeri Syam [14]](http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2010/01/images1013.jpg)
Kematangan pribadi Muhammad memang melampaui usianya, sekaligus juga jauh terlihat berbeda dibanding teman-teman sebayanya. Bila teman sebayanya masih banyak yang manja, cengeng, suka bermalas-malasan dan berbuat nakal, Muhammad telah tumbuh menjadi remaja yang memiliki pribadi yang mengagumkan. Ia cerdas, sopan, sangat suka menolong dan memiliki disiplin diri yang tinggi. Ia juga tidak suka mengabaikan tanggungjawab yang diberikan kepadanya, walaupun tanggungjawab itu Cuma masalah remeh. Baginya, memenuhi tugas yang diembannya adalah masalah besar dan serius yang tak akan pernah ia lalaikan.
Suatu hari, ketika Muhammad telah berusia 12 tahun, sang paman ikut serta dalam suatu rombongan kafilah untuk berdagang ke negeri Syam. Kendati miskin, Abu Thalib masih memiliki sedikit harta yang bisa diniagakan. Mengetahui pamannya akan pergi berdagang, timbul keinginan dalam diri Muhammad untuk ikut pergi. Keinginan itu amat kuat menyembul dalam dirinya. Ia merasa sudah siap ikut dalam pekerjaan ‘orang dewasa’. Lebih dari itu, ia tahu ia akan mendapat banyak sekali pelajaran berharga yang tidak akan didapatnya bila tetap tinggal di Mekah.
Ketika dilihatnya Abu Thalib sudah menunggangi untanya, Muhammad segera memegang tali kendalinya. Dengan menengadahkan kepala ia berkata: “Mengapa kau pergi tanpa diriku? Ijinkanlah aku untuk menemani perdaganganmu ini, wahai paman tercinta”
Demi mendengar permintaan Muhammad, luruh juga hati Abu Thalib. Semula memang tak terlintas dalam benaknya untuk mengajak kemenakannya itu. Mengingat sulitnya perjalanan menyebrangi padang pasir yang kering dan tandus, belum lagi cuaca dan marabahaya berupa serangan perompak atau binatang buas. Namun, ketika dilihatnya kesungguhan wajah Muhammad, tahulah ia bahwa Muhammad bersungguh-sungguh untuk ikut pergi dengannya. Akhirnya Abu Thalib mengijinkan Muhammad untuk ikut serta karena ia melihat Muhammad memang telah pantas diajak ikut dalam perjalanan yang cukup berat ini. Muhammad adalah remaja yang tangguh, penuh disiplin, tidak pemalas dan mudah diajak bekerjasama. Rasa tanggungjawabnya yang tinggilah yang membuat Abu Thalib memberinya ijin.
Maka, berangkatlah rombongan perdagangan itu membawa segenap barang dagangannya. Puluhan unta, himar dan bighal tampak menyemut membuat barisan panjang. Para laki-laki dewasa duduk diatas tunggangannya dengan gagah dan penuh percaya diri, bahwa perdagangan kali ini akan membawa untung besar.
Dan diantara orang banyak itu, tampaklah Muhammad yang duduk bersama Abu Thalib dalam satu unta. Dari wajah Muhammad terpancar keteguhan sekaligus rasa bangga. Ya, Muhammad anak remaja itu merasa bangga karena dapat ikut serta menjadi salah satu anggota rombongan yang akan pergi berdagang. Lihat, betapa bangganya ia! Senyum mengembang di wajahnya yang elok. Kulitnya memerah karena luapan rasa senang. Ah, ia betul-betul merasa menjadi laki-laki ‘dewasa’ yang siap mengarungi samudra kehidupan dengan cara berdagang!
Karena sesungguhnya memang berdagang telah menjadi salah satu mata pencarian yang cukup bergengsi dan membawa martabat tinggi di kalangan bangsa Arab! Seorang laki-laki dewasa yang melakukan pekerjaan berdagang akan mendapat kehormatan yang luar biasa bila dibandingkan ia menjadi petani misalnya. Itulah sebabnya, perdagangan menjadi urat nadi perekonomian bangsa Arab sejak jaman sebelum masehi. Perdagangan menjadi urat nadi perekonomian sekaligus symbol kehormatan dan harga diri para lelaki Arab. Setiap anak laki-laki Arab bisa dipastikan memiliki cita-cita sebagai pedagang!
Muhammad seperti tidak sabar hendak cepat-cepat memulai perjalanan ini. Berkali-kali ia menjulurkan kepalanya kea rah depan. Berharap pemimpin kafilah ini segera mengangkat tongkat yang ujungnya dililit kain. Itulah tanda dimulainya perjalanan. Maka, demi dilihatnya tongkat itu menjulang tinggi di barisan paling depan disertai suara gemuruh mereka yang ditinggalkan, betapa senangnya Muhammad. Inilah perjalanan pertamanya!
Berhari-hari sudah kafilah itu berjalan, siang malam melintasi sahara yang kering dengan diselingi istirahat sebentar saja. Sungguh perjalanan yang berat, namun Muhammad memang seorang anak yang tegar. Kendati kepanasan, kecapaian dan kehausan ia tidak mengeluh sama sekali. Ia tetap duduk diam di belakang Abu Thalib yang memegang kendali untanya. Betapa tabahnya anak berumur 12 tahun itu! Tak sedikitpun keluhan ataupun rengengak minta ini dan itu keluar dari mulutnya. Padahal Muhammad hampir kepayahan karena perjalanan yang memang sangat berat bagi orang dewasa. Apalagi anak sekecil dia! (interpretasi)
Sebaliknya perjalan itu amat dinikmati oleh Muhammad. Mata kecilnya seakan-akan tak puas memandang gurun sahara yang amat luas seperti tak bertepi ini. Jika siang Muhammad melihat betapa ganasnya gurun yang dilaluinya, panas yang seakan memecah kulitnya dan dirinya menyaksikan sendiri kendati bersama puluhan orang-orang yang kuat dnagagah, manusia tetap tak berdaya di tengah gurun tandus yang maha luas ini. Sungguh sebuah kenyataan yang mencubit-cubit hatinya.
Mengapa manusia menjadi tidak berdaya sama sekali, baik sendiri maupun berombongan, ketika telah berhadapan dengan alam semesta ini? Mengapa alam ini bisa menjadi sesuatu yang sangat misterius seklaigus menakutkan? Kemana alam ini akan berakhir? Bagaimana alam ini bisa ditundukkan? Adakah caranya? Atau, adakah seseorang yang bisa lebih berkuasa dari alam yang sangat ganas ini? Adakah, dan siapakah dia?
Dan tanpa di sadarinya, hatinya semakin yakin bahwa kepercayaan orang-orang Mekah pada berhala adalah hanya sebuah kebodohan belaka. Sebuah agama yang sangat tidak masuk akal. Mengapa sebuah patung yang kita buat sendiri, dengan kekuatan kita, mampu berkuasa pada tuan pembuatnya, yaitu diri kita sendiri?
Lewat pencarian dalam pertanyaan inilah yang akhirnya memberikan dorongan dalam diri Muhammad untuk semakin teguh dengan keyakinan awalnya, bahwa ia tidak percaya sama sekali dengan berhala. Bahwa ia amat membenci berhala-berhala itu. Kini ia tak ragu sedikit pun untuk menyatakan perang terhadap berhala.
Sebuah perjalanan berharga, tentunya. Manakala Muhammad menemukan ketegasan dalam dirinya utnuk tidak memberi kesempatan sedikitpun untuk percaya pada berhala.
Karena ia yakin, ada sesuatu yang melebihi berhala-berhala itu, melebihi manusia bahkan melebihi kekuatan sahara yang luas dan ganas ini. Sesuatu yang selama ini membuatnya selalu gelisah, karena ia belum menemukan jawaban pastinya.
Berbagai pertanyaan filsafati itu terus menggayuti pikiran mungilnya sepanjang perjalanan. Muhammad bertanya dan dan tak hentinya bertanya. Seakan-akan hanya dengan melontarkan pertanyaan saja hatinya sudah cukup puas. Seakan-akan pula, ia yakin pertanyaan itu akan ia dapatkan jawabannya. Entah dengan cara yang bagaimana.
Sebenarnya, taraf pergulatan spiritual Muhammad ini telah mencapai taraf seorang Hanif.(interpretasi) Seperti diketahui, bahwa agama Ibrahim telah lama hilang dan tercemar di tanah Arab. Sebagai gantinya masyarakat Arab lebih suka menyembah berhala yang mereka anggap memiliki kekuatan gaib dan kekuasaan. Namun ajaran inti agama Ibrahim tidaklah hilang sama sekali. Dasar keyakinan agama Ibrahim, yaitu Allah itu Esa tetap dipercaya oleh segelintir orang yang kemudian dinamakan orang-orang yang Hanif. Namun memang, tidak bisa dipungkiri, cara-cara dan pemahaman Ke Esa-an Allah itu telah tercemar sekali, sehingga tidak mungkin lagi di jadikan rujukan dalam beragama.
Itulah sebabnya bangsa Arab terbiasa juga menyebutkan sumpah demi Allah Sang Pemilik Kabah atau hanya demi Allah. Namun, disamping Allah mereka juga mengakui adanya kekuatan kekuatan lain yang mereka percayai akan menjadi penolong mereka. Itu juga sebabnya mereka membawa berhala-berhala masuk kedalam Kabah untuk mereka sembah, disamping mereka juga menyembah Tuhan Pemilik Kabah ini.
Ajaran inti Ibrahim seperti memuliakan Kabah, Thawaf, Haji, Umrah atau wuquh di Arafah bahkan berkurban masih setia dilakukan bangas-bangsa Arab. Hanya saja mereka melaksanakannya sudah tidak sesuai dengan ajaran aslinya. Lihat saja bagaimana mereka memasuki Kabah dengan berbondong-bondong sambil mengangkat Berhala dan kemudian berseru: “Aku sambut seruanMu, ya Allah, aku sambut seruanMu. Tiada sekutu kecuali sekutu yang memang pantas bagimu, yang Engkau dan dia miliki”
Ketika mereka berkurban pun kurban-kurban itu mereka persembahkan untuk Hubal, Latta, Uzzah atau entah apa lagi nama-nama berhala mereka.
Menjadi seorang Hanif, adalah seperti membuka pintu gerbang Alam Semesta yang luasnya tak berbatas.
Itulah sebabnya, usai fase ini mulailah fase dimana Muhammad seolah-olah seperti mengembara di angkasa luas. Menyaksikan jutaan bintang bertebaran, bulan, serta benda-benda angkasa lainnya yang semuanya di pagari langit berwarna biru kelam. Muhammad berjalan kesana kemari, seperti anak kecil yang gembira menyaksikan taman bermain. Setiap tempat ingin dijelajahi, setiap jengkal ingin disambangi.
Subhanallah, kendati seperti dilepas, ketajaman akal Muhammad telah menarik dia agar tetap dijalur yang benar. Karena biasanya, manusia bila telah berfilsafat akan mudah tergelincir menjadi atheis atau malah percaya pada tuhan-tuhan yang lain. Inilah ‘campur tangan’ Allah yang luar biasa sempurnanya dalam membimbing Muhammad agar memiliki keyakinan yang absolute tentang ketauhidan.
Dalam perniagaan ini Allah membiarkan Muhammad bersentuhan langsung dengan berbagai ragam kehidupan di dunia ini. Telinganya yang tajam mendengar cerita-cerita orang Arab dan penduduk pedalaman tentang sejarah masa lampau mereka, bangunan-bangunan mereka, tradisi dan kehidupan mereka. Dilaluinya daerah-daerah Madyan, Wadi’l Qura serta peninggalan bangunan Thamud lengkap dengan cerita mengenai bangunan tsb. Matanya yang bersinar indah terus menerus menangkap luasnya padang pasir, pohon-pohon kurma yang tumbuh menyendiri hingga badai pasir. Dia juga menyaksikan bagaimana sebuah mata air atau oase tiba-tiba menyembul sendirian ditengah-tengah luasnya sahara. Dan disambut dengan gendering ucapan syukur secara membabi buta. Seolah-olah oase itu adalah nyawa pengganti bagi mereka para pengelana padang pasir.
Di Syam, Muhammad mendengar berita tentang kerajaan Romawi dan agama Kristennya, diketahuinya berita tentang kitab suci mereka serta sikap oposisi Persia dari penyembah api dan persiapan perang mereka melawan Persia.
Sekalipun usianya dalam perjalanan itu masih 12 tahun, namun Muhammad telah memiliki ketajaman berpikir, analisis yang tepat serta mampu emmetakan permasalahan dengn baik. Itulah sebabnya semua hal yang didengar dan dilihatnya sepanjang perniagaan itu semakin menambah kaya batin dan akalnya.
Maha Kuasa Allah yang telah memberi kesungguhan akal pikiran Muhammad sehingga suatu saaat nanti , beliau sudah siap mengemban risalahNya.(interpretasi)
Setelah beberapa hari berjalan, rombongan kafilah itu tibalah di Busra, suatu tempat di timur Urdun, sebelah selatan Syam. Syukurlah, akhirnya mereka bisa berdagang. Disana jugalah para pedagang Romawi biasa datang untuk tukar menukar dagangan dengan orang-orang Arab.
Di Busra inilah, dalam beberapa hikayat diceritakan tinggallah seorang hanif, yaitu pendeta Nasrani yang bernama Bahira.
Bahira, ketika melihat pertama kali wajah dan prilaku Muhammad, langsung mengenalinya sebagai calon Nabi, utusan Allah yang akan menyebarkan risalahNya ke segala penjuru dunia!
Demi melihat hal penting itu, segeralah Bahira mengundang rombongan kafilah itu untuk bertandang ke gubuknya dan dijamu makan dan minum. Menerima undangan simpatik itu, tak terkira herannya para lelaki Quraisy.
“Hai, Bahira, kami sudah sering melewati gubukmu ini, tapi baru kali ini kau mengundang kami dalam sebuahjamuan. Ada apa gerangan?” Tanya seseorang anggota rombongan.
Bahira tersenyum mendengar pertanyaan lugas itu. Bangsa Arab memang terkenal spontan dan berterusterang bila ada hal yang aneh menurut mereka. Dengan halus Bahira menjelaskan bahwa ia hanya ingin menjalin silaturahmi dengan mereka yang sudah beberapa kali melewati rumahnya. Bahira menganggap mereka sebagai tamu dan ia ingin menghormati mereka.
Ajakan itu disambut baik oleh rombongan kafilah. Jadilah seluruh anggota rombongan itu, tanpa kecuali, datang ketempat Bahira dan menghadiri jamuan makan tersebut.
Bahira, sengaja mendudukkan Muhammad di sampingnya, sehingga ia bisa bebas bertanya pada Muhammad kecil.
“Demi Latta dan Uzza maupun Hubal, bersediakanengkau memberi keterangan yang benar?” Tanya Bahira hati-hati.
Mendengar kata-kata Bahira, Muhammad memalingkan wajah dan melihat langsung kedua mata Bahira. Sorot matanya tegas dan wajahnya Muhammad menyiratkan ketidaksenangannya mendengar kata-kata Bahira.
“Janganlah anda menanyakan sesuatu kepadaku dengan menyebut demi Latta dan Uzza. Ketahuilah tidak ada yang paling kubenci kecuali berhala-berhala itu. Berbicaralah hanya demi Tuhan Yang Maha Esa Pencipta Semesta ini”
Bahira terhenyak mendengar jawan lugas dan tak terduga itu. Ia kaget. Dipandangnya Muhammad. “Bagaimana mungkin anak sekecil ini telah memahami masalah tauhid?”, pikirnya.
“Baiklah, demi Tuhan Pencipta Alam Semesta, bersediakan engkau memberi keterangan yang benar?”
“Silahkan,”
Kemudian antara Bahira dan Muhammad terlibat pembicaraan serius. Sayang sekali apa yang diperbincangkan keduanya, sejarah tak memiliki catatan lengkap. Kemungkinan besar karena Bahira tidak mau mengungkapkan apa yang telah diketahuinya mengenai tanda-tanda kenabian dalam diri seseorang. Sedangkan Muhammad sendiri menganggap pembicaraan itu tidak penting sehingga beliau tidak pernah membicarakannya kembali, baik sesudah itu maupun bertahun-tahun tatkala ia telah menjadi Rasul Allah. Baginya, masalah tanda-tanda kenabian dirinya tak perlu di permasalahkan. Justru masalah kenabian itu sendiri yang lebih penting untuk di kaji.
Berbeda dengan orang-orang Arab, kaum Nasrani maupun Yahudi memang mengenali dengan pasti calon nabi akhir jaman, seperti mereka mengenali anak-anak mereka sendiri. Bahkan semula mereka besumpah, untuk setia dan mengikuti ajaran sang Nabi hingga akhir hayat mereka. Sejarah pula yang membuktikan, sumpah mereka tak lebih seperti bau busuk yang keluar dari bangkai seekor binatang. Sumpah yang berbau laknat.
Pertemuan Bahira dengan Muhammad hanya sekedar menguatkan janji Allah bahwa disuatu masa (dulu) akan lahir seorang Nabi yang bernama Muhammad dari kalangan orang-orang Arab yang akan membawa pencerahan bagi umat manusia, membawa mereka kepada kebaikan dan menjauhkan mereka dari kerusakan, serta kepercayaan terhadap Allah SWT yang Esa, tidak ada sekutu baginya.
Usai perbincangan dengan Muhammad, Bahira segera menghampiri Abu Thalib. “Segeralah kau pulang dan jaga baik-baik anak ini. Terutama dari gangguan kaum Yahudi. Demi Allah, mereka akan segera membunuh Muhammad bila mereka mengetahui sebanyak apa yang aku ketahui,’ demikian pesan Bahira. Abu Thalib, yang percaya bahwa Muhammad akan memiliki masa depan yang luarbiasa, mendengar kata-kata Bahira dengan terkejut. Dia tak menyangka bahwa keponakan yang amat dicintainya itu ternyata telah berada dalam bahaya bahkan sebelum masa itu tiba.
Usai jamuan di rumah Bahira, rombongan segera bersiap-siap untuk pulang karena urusan perdagangan mereka pun telah selesai dengan sukses. Demikian pula Muhammad dan pamannya. Mereka segera berkemas-kemas dengan hati riang. Kendati barang dagangan Abu Thalib tidaklah terlalu banyak dibanding pedagang lain, namun beliau mendapat keuntungan besar dari hasil jual beli itu. Abu Thalib sangat puas dengan perdagangan kali ini. Sebaliknya Muhammad pun gembira dengan perjalanan yang sungguh menakjudkan bagi mata batinnya ini. Namun karena terpengaruh ucapan Bahira, Abu Thalib bertekad bahwa ini adalah perdagangan terakhir yang diikutinya. Karena ia tidak mungkin berdagang tanpa Muhammad, sedangkan bila Muhammad ikut, ia kuatir keponakannya ini akan di ganggu kaum Yahudi atau Nasrani. Rasa sayang Abu Thalib sungguh melebihi kasih sayangnya bahkan untuk anak-anaknya sendiri.
Namun peringatan pendeta Bahira, lambat laun mulai dilupakannya. Mungkin karena tak pernah lagi ada orang yang menyinggung masalah kenabian pada Abu Thalib atau pada kenyataannya, Muhammad tak pernah punya musuh atau dijahati orang. Malah kebalikannya, Muhammad tumbuh menjadi pemuda yang elok rupawan sehingga menawan hati siapapun yang melihat. Baik laki-laki atau perempuan, tua, muda bahkan anak-anak. Ditambah sikapnya yang sopan dan luhur, Muhammad benar-benar menjadi mutiara, menjadi sosok yang mencengangkan di masa jahiliah. Sehingga kendati Abu Thalib tidak lagi ikut berdagang karena tak lagi punya modal, Muhammad terkadang ikut pula membantu-bantu orang yang butuh tenaganya dalam melakukan perdagangan ke luar kota. Upah yang didapatnya pun cukup lumayan untuk membantu kehidupan Abu Thalib yang miskin. Dan syukurlah, dalam perjalanan-perjalanan itu Muhamamad tidak mendapat gangguan seperti yang diperingati pendeta Bahira.
Kehidupan bersama pamannya, kendati miskin namun Muhammad merasa berbahagia. Ia mendapat cinta yang sama dengan saudara-saudara sepupunya, bergaul dengan akrab, saling sayang dan melindungi. Hal itu sudah lebih dari cukup bagi si yatim piatu yang rendah hati itu.
Muhammad , selain mengenal seluk beluk jalan padang pasir, mendengar para penyair, ahli-ahli pidato yang memabacakan sajak mereka, pada masa ini Muhammad mulai mengenal arti peperangan. Kehidupan masyarakat Arab yang terbelah pada banyak suku tentu rawan gesekan yang sangat mungkin berakhir dengan peperangan. Apalagi setelah kematian Hasyim dan Abdul Muthalib, praktis kekuasaan Mekah sudah jatuh. Karena tidak ada pengganti yang setara , maka setiap orang berebut untuk menjadi pemimpin. Ingin menjadi penguasa. Sehingga perang sejak kematian Abdul Muthalib seringkali terjadi. Karena pemimipin Mekah yang bisa dijadikan perekat, tidak ada lagi. Tidak ada orang yang ditakuti dan disegani.
Sejarah mencatat, perang Fijar adalah perang pertama yang dikenal dan Muhammad terlibat di dalamnya terjadi akibat kevakuman kekuasaan di Mekah pasca Abdul Muthalib. Syahdan, Nu’man bin M”l- Mundhir setiap tahun mengirim kafilah dari Hira ke Ukas. Namun suatu ketika Nu’man memilih ‘Urwa ar-Rahhal bin ‘Utba dari kabilah Hawazin. Pilihan ini menimbulkan kejengkelan dn kemarahan Barradz bin Qais dari kabilah Kinana, yang kemudian mengikuti ‘Urwa dari belakang lalu membunuhnya dan mangambil alih kafilah itu beserta barang dagangannya. Peristiwa pembunuhan ini terjadi pada bulan suci, dimana telah terjadi perjanjian diantar para kabilah untuk tidk berperang di bulan suci.
Usai membunuh, Barradz memberitahukan Basyar bin Abi Hazim bahwa pihak Hawazin akan menuntut balas kepada Quraisy. Pihak Hawazin segera menyusul Quraisy sebelum masuknya bulan Suci. Maka terjadilah perang antar mereka. Namun Quraisy mengalami kekalahan lalu mundur ke Mekah. Perang dihentikan sampai tahun depan di ‘Ukaz. Demikian perang itu terjadi setiap tahun sekali selama 4 tahun terus menerus.
Sejarah memang hanya sedikit mencatat peristiwa perang Fijar ini. Namun, kaum Muslimin melihat bahwa dalam perang inilah Muhammad mulai mengerti arti perang sesungguhnya. Kendati tugas Muhammad pada awalnya hanya memunguti anak-anak panah lalu kemudian meningkat menjadi pemanah. Ia mempersiapkan anak panah dan tombak untuk paman-pamannya. Sebagaimana peristiwa lainnya, perang ini pun memberi dampak pada kepribadian Muhammad. Karena saat itulah ia belajar menguji keberanian dalam perang, ketangkasan berkuda dan keahliannya memanah dalam perang yang sesungguhnya.
Pada saat usianya antara 15 hingga 20 tahun, ia telah mampu menunjukkan keberanian dan keteguhan hati. Kelak, pengalaman ini menjadi bekal berharga dalam perang beliau sendiri melawan orang kafir. Beliau dikenal sebagai ahli strategi perang yang brilian. Pemimpin yang tak kenal takut, kendati jumlah musuh berlipat-lipat ganda. Ia menjadi Panglima Besar sepanjang sejarah.

![Bab II: Perdagangan Pertama Ke Negeri Syam [14] more Bab II: Perdagangan Pertama Ke Negeri Syam [14]](http://nabimuhammad.info/wp-content/plugins/sociable/images/more.png)